CIRCA
Meraup Pasar Lewat Boneka Nusantara
Kebayang nggak jika pasangan Asep-Euis asal Sunda, dan pasangan Kadir- Baria asal Madura hadir dalam wujud boneka? Pasti sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi kedua pasang boneka tersebut didandani dengan pakaian tradisional, plus make-up serta tatanan rambut persis dengan ciri khas masyarakat aslinya.
Tak hanya itu, ada pula pasangan Putu-Sawitri dari Bali dan Jiun-Rodiah dari Betawi. Semua nama itu masuk dalam kategori boneka Nusantara, karya Ukke R. Kosasih (43). Berangkat dari keinginannya untuk melestarikan kekayaan tradisi budaya bangsa, ia memutuskan untuk berbisnis boneka yang mewakili berbagai macam suku bangsa di Indonesia.
Circa menjadi nama bisnis yang dipilih Ukke di awal 2006 lalu. Nama ini memiliki arti sebuah kurun waktu yang tidak akan ada habisnya. Suatu bisnis yang nantinya bisa diturunkan dari generasi ke generasi. “Bisnis ini akan menjadi heritage yang akan saya wariskan ke anak-anak didik saya,” ucap wanita asal Bandung ini. Yang dimaksud anak didik adalah pegawai-pegawainya, yang keseluruhannya wanita putus sekolah usia 20-23 tahun.
Berangkat dengan dua mesin jahit dan modal Rp 20 juta, Ukke mulai mengembangkan layar. Uang itu digunakan untuk merekrut tiga pegawai, membeli bahan (kain velt, belacu, dakron, brokat, dan wol), membeli pelengkapan alat-alat jahit, serta meja panjang lipat untuk tempat mengukur bahan. Setelah semua siap, ia pun melatih tenaga kerjanya.
Semua pengerjaan boneka itu dilakukan dengan tangan alias handmade. Mulai membuat pola, menjahit, mengisi dakron, memasang rambut, membuat baju, menggambar wajah (termasuk menyulam bulu mata), memasang aksesori (mata, hidung), hingga membungkus dalam plastik. Jelas, pekerjaan ini membutuhkan ketekunan, kesabaran, minat tinggi dan niat tinggi untuk belajar dan berkreasi. Pelan tapi pasti, setiap bulan ia dan timnya mampu menghasilkan 50 boneka. Saat itu boneka yang baru dipasarkannya adalah seri Nusantara yaitu si Putu-Sawitri dari Bali, dan seri Asia dari Jepang dengan nama Oyuki. Harganya berkisar antara Rp 75.000-Rp 150.000, dilihat besar kecilnya ukuran dan tingkat kerumitan.
Tak disangka, pembelinya cukup banyak, hingga setiap bulan ada keuntungan Rp 5 juta yang berhasil dikantongi. Hingga awal 2007, kapasitas permintaan naik menjadi 300 boneka per bulan. Bahkan sebuah department store di Bali memesan hingga 100 boneka. Agar tetap tertangani, ia menambah enam pegawai baru.
Untuk desain boneka, lulusan Universitas Indonesia jurusan Antropologi ini dibantu kakaknya, Joanita. Ide membuat boneka datang dari hasil penelitian tentang tradisi kebudayaan masyarakat dari daerah-daerah di tanah air. Jadi tidak asal-asalan. Sebab, setiap wanita dari daerah tertentu memiliki jenis konde berbeda, begitu pula dengan riasan dan kostumnya. “Agar mewakili aslinya, saya berburu bahan ke daerah asalnya, seperti di Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Bali,” tambahnya.
Selain mengandalkan pameran dan strategi pemasaran dari mulut ke mulut, Ukke juga memanfaatkan promosi gratis via internet melalui facebook. Alhasil, permintaan boneka Circa setiap tahun semakin tinggi. Ukke sempat keteteran mengejar produksi. Pasalnya pengerjaan setiap boneka membutuhkan ketelitian tinggi. “Salah menjahit atau menempel, maka harus diulang. Supaya kualitas tetap terjaga, tahun 2008 saya tambah lagi pegawai menjadi 11 orang,” ungkapnya.
Tahun 2009 Circa mengalami kenaikan omset yang luar biasa, mencapai Rp 20 juta per bulan. Bahkan, jumlah ini naik dua kali lipat di saat liburan. Peminatnya tak hanya orang lokal, namun juga turis mancanegara yang membelinya untuk cindera mata. Agar roda bisnisnya berputar semakin kencang, Ukke melakukan strategi pengembangan produk dengan menciptakan rangkaian seri kreasi baru. Beberapa di antaranya seri Kiddies (lewat karakter Sunday, Megan, Wood Elf, Vivian), Country (Joan, Nina, Pipi), dan boneka kaus seri Animal (Owie Owl, Sasa Sheep, Cathy Cat, Ducky Duck).
CATUR
Menjual Seni Lewat Washi Ningyo
Sedikit berbeda dari pengusaha lain, Catur Arie Setiyani (31) tidak mengawali bisnisnya dengan mematok target keuntungan materi. Ia justru mendasarkan usaha rumahannya itu pada niat untuk berbagi kesenangan. Meskipun mengaku tidak mementingkan keuntungan, nyatanya toko online Dieva's Craft yang dijalankannya sejak 2006 ini tetap bertahan hingga sekarang dan terus mendatangkan laba.
Washi Ningyo berasal dari kata Wa yang berarti Jepang, dan Shi, yaitu kertas. Sementara Ning berarti orang, dan Yo adalah bentuk. Apabila disatukan Washi Ningyo berarti bentuk orang dari kertas. Uniknya, meskipun hampir 100 persen bahan-bahannya dari kertas, Washi Ningyo bisa memiliki penampilan tiga dimensi layaknya boneka pada umumnya. “Sesuai tradisi, wajah boneka washi memang dibiarkan polos tanpa mata, hidung atau mulut,” jelas Catur.
Di awal usahanya, karyawati perusahaan industri gas ini harus merogoh modal sekitar 5 juta rupiah. Jumlah ini khusus untuk membeli material boneka, seperti kertas washi, kawat, dan clay (untuk kepala). Di luar itu, ia masih harus menginvestasikan uang untuk membeli buku-buku pembuatan washi yang totalnya mencapai 3 juta rupiah. Karena tidak dijual di Indonesia, Catur berburu buku lewat situs e-bay di internet atau menitip temannya di Jepang.
Boneka tradisional Jepang ini pembuatannya cukup rumit dan menuntut ketelitian tinggi. Apalagi jenis kertasnya benar-benar tipis, sehingga mudah rusak. “Sayang kan, ratusan ribu terbuang hanya gara-gara salah lipat atau tempel,” ujar lulusan Teknologi Informatika YAI, Jakarta ini. Pembuatan boneka washi ini memang padat modal. Bayangkan saja, selembar kertas washi berukuran A4 (21 x 29,7 cm) dihargai 20 ribu rupiah. Harga ini naik menjadi 80-150 ribu rupiah untuk ukuran kertas A0 (80 x 60 cm). “Semakin rumit dan indah pola kertas, harganya makin tinggi,” tambah Catur.
Untuk membuat satu boneka 3 dimensi (3D) berukuran tinggi 20 cm, setidaknya butuh 2 lembar kertas washi ukuran A4. Itu baru hitungan materi dan belum memasukkan nilai seni dan kreasi dari pembuatnya. “Rata-rata saya menghabiskan waktu sekitar 8 jam untuk membuat satu boneka 3D,” ungkap ibu dua anak, Faris (6) dan Dieva (4) ini. Agar bisa fokus, ia harus menunggu kedua anaknya tidur. Dan ini berarti ia harus terjaga hingga pukul dua dini hari!
Catur mengaku tidak mematok harga pasti untuk setiap karya seni yang dihasilkannya. Hal ini sangat bergantung pada kerumitan dan kecintaannya pada tiap boneka. “Setiap boneka seperti membawa sekeping hasrat dan kecintaan saya,” ujar Catur. Ia rata-rata bisa menghasilkan 10 boneka setiap minggu. Melihat keelokannya, pantaslah jika Catur membuka penawaran terendah 300 ribu rupiah untuk satu boneka.
Bagi pencinta boneka washi dan mereka yang paham seni, harga itu tidak seberapa. Catur mengaku, beberapa bonekanya laku dengan harga yang cukup tinggi, yaitu 800 ribu rupiah per buah. Bahkan dalam sebuah pameran, seorang turis asing berani membayar hingga satu juta rupiah demi bisa membawa pulang boneka washi karyanya. Padahal, boneka kesayangannya itu tadinya tidak untuk dijual. “Tidak menyangka penawaran saya langsung disanggupi,” sesalnya.
Selain menjual boneka jadi, Catur juga membuka kursus dan menjual kit (material untuk membuat satu boneka). Penjualan kit ini biasanya mencapai puncak di masa liburan, yaitu bisa mencapai 400–500 kit sebulan. Untuk kursus, ia memakai jatah liburan akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Tempatnya fleksibel, mengikuti kemauan si peserta. Untuk tingkat pemula, Catur mematok harga 50-100 ribu rupiah sekali kursus. Di tingkat ini ia akan mengajarkan pembuatan boneka dua dimensi. Untuk tingkat lanjut atau membuat boneka tiga dimensi, Catur mematok harga 200-300 ribu rupiah sekali datang. Enaknya, peserta tak perlu repot-repot mencari bahan sendiri, karena harga tersebut sudah termasuk kit. “Pokoknya dalam waktu sehari mereka sudah bisa membawa pulang satu boneka jadi,” ujarnya berpromosi.
Menurut Catur, kunci sukses bisnisnya itu terletak pada kekuatan komunitas. Ya, sebab rata-rata mereka yang berguru padanya adalah orang-orang yang memang memiliki ketertarikan khusus pada segala sesuatu tentang Jepang. Orang-orang seperti ini selalu ada setiap saat, sehingga ia tidak pernah kehabisan pasar. Selain itu, strategi marketing secara online sangat membantu. Dengan hanya mengeluarkan biaya 300 ribu rupiah/tahun untuk sewa hosting dan nama, pelanggannya bisa mengakses situsnya dievascraft.com setiap ada produk baru. Proses komunikasinya mudah, hanya melalui e-mail atau telepon. Begitu harga disetujui dan transaksi bank beres, barang akan segera dikirim.
SONYA
Berhasil Berkat ‘Jemput Bola’
Tak disangka, tahun 2001 merupakan awal kesuksesan berbisnis buat Sonya Chaterina (31). Dalam waktu dua jam, dagangan 100 boneka Teletubbies miliknya ludes terjual. Dan, dalam waktu supersingkat itu pula ia berhasil meraup keuntungan sebesar Rp 2 juta. Padahal boneka tersebut dibelinya di Mangga Dua, Jakarta, dan dijualnya di lapangan Gasibu, Bandung.
Tahu akan mudahnya berbisnis sampingan ini, Sonya yang saat itu masih kuliah tingkat akhir di Institut Teknologi Bandung jurusan Biologi, melakukan hal yang sama setiap akhir pekan. Selama empat bulan lamanya, ia memborong boneka dari Jakarta dan menjualnya di Kota Kembang.
Namun, karena kesibukan membuat skripsi, menikah, dan mengurus anak, bakat bisnisnya terpaksa harus disimpan untuk sementara waktu. Tahun 2005, angin segar mengenalkannya kepada seorang pemilik pabrik boneka. Pertemuan ini berhasil menginsipirasi dan membangkitkan bakat bisnisnya yang sempat mati suri. Dengan modal 100 boneka sisa yang tak terjual dari pabrik rekannya, Sonya berhasil mendapat keuntungan Rp 10.000-30.000 untuk setiap boneka yang berhasil dijualnya.
Setelah melihat-lihat, Sonya merasa yakin bahwa ia sebenarnya bisa membuat boneka yang lebih lucu. Dengan niat ini ia mulai mendesain boneka sendiri dan memajangnya di halaman blog pribadinya, bonekaku.blogspot.com. Idenya didapat dari surfing di internet, jalan-jalan di mal, menonton acara TV, serta hadiah boneka luar negeri dari teman. Karena memang desainnya lucu, menarik dan menggemaskan, jumlah permintaannya pun akhirnya meledak.
Ia yang awalnya hanya menjual ‘muntahan’ pabrik, akhirnya mencari material yang diperlukan untuk membuat pesanan, lalu menumpang pembuatan di pabrik temannya. “Modal saya Rp 20 juta untuk belanja bahan baku, aksesori boneka dan membayar ongkos kerja mereka. Harga bahan memang mahal, jika mau kualitasnya baik,” jelas Sonya yang kerap hunting bahan di Pasar Pagi Asemka, Glodok, Jakarta.
Kesuksesan bisnis Sonya diakui juga berkat strategi jemput bola yang dijalankan. “Saya rajin presentasi produk ke perusahaan, hotel, bank, universitas, biro iklan, yang menginginkan boneka maskot. Saya juga melayani permintaan pribadi untuk suvenir ulang tahun dan pernikahan,” tuturnya. Pernah terjadi sebuah perusahaan memesan hingga 15.000 buah. Saking kewalahan, Sonya menyebar order tersebut ke beberapa home industry boneka. “Saya tinggal kirim potongan bahan dan aksesori. Mereka yang membuat. Dengan cara itu target waktu 5 minggu bisa ditepati,” ungkapnya.
Karena setiap tahun kenaikan order mencapai 10 kali lipat, akhirnya daripada numpang produksi terus di tempat teman, Sonya membuka home industry sendiri. Modal yang ditanam sebesar 30 juta untuk membeli 5 mesin jahit, kontrak rumah, 1 alat potong bahan, membayar 3 karyawan serta membeli perlengkapan konveksi. Dengan punya produksi sendiri, ada beberapa keuntungan yang didapat, seperti quality control yang lebih bagus, serta manajemen waktu produksi yang lebih baik. “Sebelumnya saya harus antre agar pesanan saya bisa dikerjakan. Namanya juga numpang,” ulasnya.
Kini, per bulan ia bisa mempunyai omset Rp 30-100 juta, tergantung dari tinggi rendahnya permintaan. “Namanya bisnis, pasti ada pasang surutnya. Biasanya kalau pas ikut pameran di PRJ, atau perusahaan minta dibuatkan suvenir, atau pas hari Valentine, permintaan bisa melambung,” tuturnya bersemangat. Tahun ini ia punya 7 karyawan tetap.
Namun demikian, banjir order itu tidak lantas membuatnya menerima semua permintaan yang masuk. “Dulu, awal-awal usaha saya mengalami euforia. Demi mendapat keuntungan besar, inginnya semua order diambil. Namun sekarang, saya berani menolak order. Yang penting pelanggan puas,” imbuhnya.
Sumber: wanitawirausaha.femina.co.id
Kue Pancung Bulat by Intan Marbun
-
by Intan Marbun
*Bahan-bahan*
250 gram tepung ketan
150 gram gula pasir
1 sdm mentega
1 sachet vanili
1/4 sdt garam
1 butir telur
1/2 buah kelapa paru...
8 years ago


