Julian Wibowo (33), Bengawan Solo Coffee
ANDALKAN 3 CARA BERJUALANNama sungai terbesar di Jawa yang melegenda, dipilih Julian untuk mengusung bisnis kedai kopi lokalnya yang lain dari yang lain. Pasalnya, kedai ini menawarkan berbagai bubuk kopi Indonesia, yang diracik menjadi aneka bentuk dan rasa kopi istimewa. Di antaranya cappuccino, espresso, coffee latte, macchiato, caramel latte, mocha latte, hot chocolate, dan vanilla. Ada juga sajian minuman non-kopi, seperti ice-blend, juice, dan teh tarik. Namun, yang paling laris tetap dua racikan kopi yang dinamakan The Ultimate dan Brandy Cookies. Harga per cangkir mulai dari Rp8.000 sampai Rp26.000.
Sama dengan kebanyakan kedai, bahan baku Bengawan Solo menggunakan kopi arabika dan robusta. Daya tarik kedai kopi, menurut Julian, adalah karena fleksibel memenuhi beragam keperluan, mulai dari yang serius, seperti negosiasi bisnis, sampai untuk gaul atau santai bersama keluarga.
Kini, Julian juga membuka peluang franchise, meski tetap fokus pada pengelolaan sendiri. Untuk efektivitas bisnis, ia sengaja menerapkan 3 cara berjualan. Selain berbentuk kedai seperti pada umumnya, Bengawan Solo juga hadir dalam bentuk stall (gerobak berjualan). Cara ini tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang sibuk bekerja. Karena tak sempat ngopi sambil kongkow-kongkow, mereka lebih memilih membeli kopi secara take away.
“Salah satu stall saya terletak di lobi gedung perkantoran supersibuk di Jalan Sudirman. Kebanyakan pembeli sedang buru-buru masuk kantor, atau sedang iseng menunggu mobil yang akan menjemput untuk meeting di luar kantor,” ujarnya, menerangkan. Cara jualan yang ketiga adalah berbentuk ‘kedai pulau’ (kedai yang terdapat di tengah-tengah luasnya lobi mal). Tempat seperti ini juga ramai, karena menjadi melting point bagi mereka yang datang ke mal untuk berbelanja maupun negosiasi dagang.
Dari pertama dibuka tahun 2003, kini Bengawan Solo sudah memiliki 30 outlet, tersebar di area Jabodetabek. Dulu, ketika memulai, Julian bermodal pada prinsip, harus lebih dulu paham produk dan perilaku konsumen. Lokasi outlet harus di daerah ramai, dan desainnya harus menarik perhatian. “Dalam menyeleksi staf, saya berpegang pada prinsip, mereka harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Karena, mereka adalah jembatan antara pelanggan dengan saya.”
Untuk ‘mengikat’ pelanggan, Julian sengaja menjual kopi dengan harga terjangkau tanpa menurunkan kualitas. Promosi dengan cara mendukung kegiatan masyarakat dan perusahaan dilakukan dengan cara membagikan kopi gratis. Meski diakui Julian, promosi dari mulut ke mulut tetap menjadi strategi andalannya.
“Percaya atau tidak, kami berusaha mengingat semua nama pelanggan. Jumlahnya banyak sekali. Kami menyapa setiap mereka kembali. Cara pendekatan personal seperti ini ternyata cukup ampuh menjaring pelanggan loyal,” katanya. Cara lain, Bengawan Solo rajin mengeluarkan produk-produk baru dengan nama yang mengundang penasaran. Salah satunya, Orange Passion Coffee. Agar makin dicintai konsumennya, Julian juga menerbitkan kartu anggota, supaya pelanggan merasa diapresiasi karena setiap berbelanja di gerainya mendapat potongan harga.
Syenny Widjaja, Bakoel Koffie
RAHASIA WARISAN KELUARGADi antara menjamurnya kedai kopi lokal, Bakoel Koffie termasuk salah satu yang namanya selalu harum. Bakoel memiliki sejarah bisnis kopi cukup panjang. Dimulai pada 1878 dari toko kopi Tek Sun Ho yang berlokasi di daerah Warung Tinggi, Gambir, Jakarta Pusat.
Seiring perkembangan zaman, penerus bisnis --yang diusung dua bersaudara, Syenny Chatrine Widjaja dan Hendra Widjaja-- memutuskan untuk memperluas cakupan bisnis menjadi kedai yang menjual kopi siap minum. Pada tahun 2001, kedai yang hanya menyajikan minuman kopi Indonesia dengan tampilan modern, dibuka. Belakangan, Bakoel juga menyajikan makanan menu Barat dan kudapan khas Indonesia. Untuk persediaan kopi, mereka bermitra dengan petani dan pedagang kopi dari berbagai daerah di Indonesia.
Kedai kopi pertama didirikan di Jalan Barito, Jakarta Selatan. Kehadirannya langsung memikat perhatian, karena atmosfer kedai yang istimewa, mirip galeri. Benda-benda antik yang berhubungan dengan proses pembuatan minuman kopi, dijadikan pajangan yang mengundang rasa ingin tahu.
“Bisnis kedai kopi akan terus menjadi kebutuhan yang mengikuti perkembangan zaman. Berbeda dari minum wine, minum kopi lebih bersifat affordable luxury, bisa dinikmati dengan harga terjangkau. Disukai pria maupun wanita, tua maupun muda,” kata Syenny.
Dulu, waktu memulai usaha, Syenny amat memperhatikan faktor cash flow (perputaran arus uang). Ia berprinsip, uang yang berputar harus cukup untuk operasi kedai selama 6 bulan pertama. “Tujuannya waktu itu, membangun consumer awareness melalui promosi,” jelasnya. Syenny pun berpatokan pada 3 hal: memilih lokasi strategis, interior sesuai konsep, dan rekrutmen pegawai yang memiliki etika kerja yang baik.
“Pelatihan adalah bagian penting dalam screening pegawai. Pasalnya, saat ini banyak calon tenaga kerja, tapi sayangnya, yang mempunyai keinginan untuk maju, hanya segelintir,” kata Syenny. Selain itu, untuk bertahan di tengah krisis keuangan, Bakoel terus mengawasi segi biaya operasi, tetap menjaga kualitas, dan terus meningkatkan pelayanan. “Promosi dari mulut ke mulut sangat besar pengaruhnya dalam membuat suatu kedai kopi menjadi sebuah destinasi,“ sambungnya. Kini, Bakoel Koffie sudah memiliki 5 kedai sukses yang tersebar di Jakarta.
“Bakoel Koffie melegenda dalam hal racikan bubuk kopi. Ini rahasia warisan keluarga. Bila bubuk kopinya saja sudah enak, diseduh air panas begitu saja pasti sudah enak. Dicampur apa pun, juga enak. Berbeda dari kedai kopi lain, yang umumnya mengandalkan komposisi racikan antara kopi dengan susu,” sambung Hendra. Tapi, terkait krisis keuangan sekarang, Syenny dan Hendra memilih untuk menahan diri. Menurut mereka, ekspansi bukan langkah yang bijak pada masa susah ini.















