Kisah Sukses Pengusaha Kopi|Kopi Nusantara Melegenda

Julian Wibowo (33), Bengawan Solo Coffee

ANDALKAN 3 CARA BERJUALAN
Nama sungai terbesar di Jawa yang melegenda, dipilih Julian untuk mengusung bisnis kedai kopi lokalnya yang lain dari yang lain. Pasalnya, kedai ini menawarkan berbagai bubuk kopi Indonesia, yang diracik menjadi aneka bentuk dan rasa kopi istimewa. Di antaranya cappuccino, espresso, coffee latte, macchiato, caramel latte, mocha latte, hot chocolate, dan vanilla. Ada juga sajian minuman non-kopi, seperti ice-blend, juice, dan teh tarik. Namun, yang paling laris tetap dua racikan kopi yang dinamakan The Ultimate dan Brandy Cookies. Harga per cangkir mulai dari Rp8.000 sampai Rp26.000.

Sama dengan kebanyakan kedai, bahan baku Bengawan Solo menggunakan kopi arabika dan robusta. Daya tarik kedai kopi, menurut Julian, adalah karena fleksibel memenuhi beragam keperluan, mulai dari yang serius, seperti negosiasi bisnis, sampai untuk gaul atau santai bersama keluarga.

Kini, Julian juga membuka peluang franchise, meski tetap fokus pada pengelolaan sendiri. Untuk efektivitas bisnis, ia sengaja menerapkan 3 cara berjualan. Selain berbentuk kedai seperti pada umumnya, Bengawan Solo juga hadir dalam bentuk stall (gerobak berjualan). Cara ini tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang sibuk bekerja. Karena tak sempat ngopi sambil kongkow-kongkow, mereka lebih memilih membeli kopi secara take away.

“Salah satu stall saya terletak di lobi gedung perkantoran supersibuk di Jalan Sudirman. Kebanyakan pembeli sedang buru-buru masuk kantor, atau sedang iseng menunggu mobil yang akan menjemput untuk meeting di luar kantor,” ujarnya, menerangkan. Cara jualan yang ketiga adalah berbentuk ‘kedai pulau’ (kedai yang terdapat di tengah-tengah luasnya lobi mal). Tempat seperti ini juga ramai, karena menjadi melting point bagi mereka yang datang ke mal untuk berbelanja maupun negosiasi dagang.

Dari pertama dibuka tahun 2003, kini Bengawan Solo sudah memiliki 30 outlet, tersebar di area Jabodetabek. Dulu, ketika memulai, Julian bermodal pada prinsip, harus lebih dulu paham produk dan perilaku konsumen. Lokasi outlet harus di daerah ramai, dan desainnya harus menarik perhatian. “Dalam menyeleksi staf, saya berpegang pada prinsip, mereka harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Karena, mereka adalah jembatan antara pelanggan dengan saya.”

Untuk ‘mengikat’ pelanggan, Julian sengaja menjual kopi dengan harga terjangkau tanpa menurunkan kualitas. Promosi dengan cara mendukung kegiatan masyarakat dan perusahaan dilakukan dengan cara membagikan kopi gratis. Meski diakui Julian, promosi dari mulut ke mulut tetap menjadi strategi andalannya.

“Percaya atau tidak, kami berusaha mengingat semua nama pelanggan. Jumlahnya banyak sekali. Kami menyapa setiap mereka kembali. Cara pendekatan personal seperti ini ternyata cukup ampuh menjaring pelanggan loyal,” katanya. Cara lain, Bengawan Solo rajin mengeluarkan produk-produk baru dengan nama yang mengundang penasaran. Salah satunya, Orange Passion Coffee. Agar makin dicintai konsumennya, Julian juga menerbitkan kartu anggota, supaya pelanggan merasa diapresiasi karena setiap berbelanja di gerainya mendapat potongan harga.

 

Syenny Widjaja, Bakoel Koffie

RAHASIA WARISAN KELUARGA
Di antara menjamurnya kedai kopi lokal, Bakoel Koffie termasuk salah satu yang namanya selalu harum. Bakoel memiliki sejarah bisnis kopi cukup panjang. Dimulai pada 1878 dari toko kopi Tek Sun Ho yang berlokasi di daerah Warung Tinggi, Gambir, Jakarta Pusat.

Seiring perkembangan zaman, penerus bisnis --yang diusung dua bersaudara, Syenny Chatrine Widjaja dan Hendra Widjaja-- memutuskan untuk memperluas cakupan bisnis menjadi kedai yang menjual kopi siap minum. Pada tahun 2001, kedai yang hanya menyajikan minuman kopi Indonesia dengan tampilan modern, dibuka. Belakangan, Bakoel juga menyajikan makanan menu Barat dan kudapan khas Indonesia. Untuk persediaan kopi, mereka bermitra dengan petani dan pedagang kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

Kedai kopi pertama didirikan di Jalan Barito, Jakarta Selatan. Kehadirannya langsung memikat perhatian, karena atmosfer kedai yang istimewa, mirip galeri. Benda-benda antik yang berhubungan dengan proses pembuatan minuman kopi, dijadikan pajangan yang mengundang rasa ingin tahu.

“Bisnis kedai kopi akan terus menjadi kebutuhan yang mengikuti perkembangan zaman. Berbeda dari minum wine, minum kopi lebih bersifat affordable luxury, bisa dinikmati dengan harga terjangkau. Disukai pria maupun wanita, tua maupun muda,” kata Syenny.

Dulu, waktu memulai usaha, Syenny amat memperhatikan faktor cash flow (perputaran arus uang). Ia berprinsip, uang yang berputar harus cukup untuk operasi kedai selama 6 bulan pertama. “Tujuannya waktu itu, membangun consumer awareness melalui promosi,” jelasnya. Syenny pun berpatokan pada 3 hal: memilih lokasi strategis, interior sesuai konsep, dan rekrutmen pegawai yang memiliki etika kerja yang baik.

“Pelatihan adalah bagian penting dalam screening pegawai. Pasalnya, saat ini banyak calon tenaga kerja, tapi sayangnya, yang mempunyai keinginan untuk maju, hanya segelintir,” kata Syenny. Selain itu, untuk bertahan di tengah krisis keuangan, Bakoel terus mengawasi segi biaya operasi, tetap menjaga kualitas, dan terus meningkatkan pelayanan. “Promosi dari mulut ke mulut sangat besar pengaruhnya dalam membuat suatu kedai kopi menjadi sebuah destinasi,“ sambungnya. Kini, Bakoel Koffie sudah memiliki 5 kedai sukses yang tersebar di Jakarta.

“Bakoel Koffie melegenda dalam hal racikan bubuk kopi. Ini rahasia warisan keluarga. Bila bubuk kopinya saja sudah enak, diseduh air panas begitu saja pasti sudah enak. Dicampur apa pun, juga enak. Berbeda dari kedai kopi lain, yang umumnya mengandalkan komposisi racikan antara kopi dengan susu,” sambung Hendra. Tapi, terkait krisis keuangan sekarang, Syenny dan Hendra memilih untuk menahan diri. Menurut mereka, ekspansi bukan langkah yang bijak pada masa susah ini.
Read More

Kisah Wirausaha Kuliner|Wirausahawati Banjarmasin

Kue Bingka Bunda Banjarmasin

KHAS RASANYA, UNIK MEMBUATNYA


Hobi bisa jadi bisnis menjanjikan. Ini dibuktikan seorang ibu dari Banjarmasin yang gemar membuat kue. Jenis kue yang diliriknya adalah kue khas orang Banjar bernama bingka. Kini bingka buatannya sudah jadi salah satu oleh-oleh khas dari Banjarmasin.

Bermula dari hobi, Hj. Zuhriah (59) menjadi pengusaha kue yang sukses. Zuhriah masih ingat betul, sekian tahun lalu ketika sang suami, Drs. H. Fuad (64), menjabat kepala sekolah sebuah SMA di Amuntai (Kalsel), mereka tinggal di pusat kota. Persis di depan rumah ada seorang pedagang telur ayam dan bebek. "Setiap hari saya beli telur yang cangkangnya pecah atau retak murah, Saban hari saya membeli telur untuk bahan membuat kue untuk santapan keluarga," kenang Zuhriah.

Tak hanya keluarga, teman-temannya pun tahu, Zuhriah piawai mengolah kue yang lezat. Hobi Zuhriah berkembang ketika mereka pindah ke Banjarmasin, ibukota Kalsel. Di kota Seribu Sungai ini tiap bulan puasa diselenggarakan Festival Kue Ramadhan. Pada tahun 1984, seorang teman Zuhriah mengajaknya bermula dari hobi, Hj. Zuhriah (59) menjadi pengusaha kue yang sukses. Zuhriah masih ingat betul, sekian tahun lalu ketika sang suami, Drs. H. Fuad (64), menjabat kepala sekolah sebuah SMA di Amuntai (Kalsel), mereka tinggal di pusat mengisi gerainya. "Ayolah, ikut saja. Kue yang mau saya jajakan masih kurang untuk mengisi kios," ajak teman Zuhriah. Zuhriah pun setuju.


Zuhriah memilih membuat wadai Bingka, kue khas Banjar. Wadai dalam bahasa Banjar berarti kue. Rasanya mirip kue lumpur. Seperti kolak, hampir tiap hari kue bingka disajikan saat bulan puasa. "Awalnya, kue buatan Ibu tak laris. Dari 40 loyang, sehari paling laku 20 loyang. Terpaksa kue yang tak laku tiap hari dibagikan pada tetangga. Maklum bingka, kan, kue basah yang hanya tahan sehari semalam," cerita Netty Asistina Suciati (34), anak sulung Zuhriah.

Namun, Zuhriah tak putus asa. Ia tetap menjajakan kuenya. Hanya butuh waktu dua minggu, bingka buatannya mulai banyak peminat. "Setelah itu tidak ada lagi bingka yang tersisa," lanjut Netty.

JADI OLEH-OLEH KHAS


Tahun-tahun berikutnya, Zuhriah rutin ikut festival. Lama-kelamaan, rasa bingka made in Zuhriah sudah menancap di lidah langganannya. Tak heran meski Ramadhan usai, masih ada saja orang yang mengetuk pintu rumahnya memesan wadai berwarna kuning kecokelatan ini. "Saya mulai kewalahan. Sekarang, tiap hari selalu saja ada yang pesan. Nah, saya pun dibantu tiga karyawan. Sehari kami buat buat 50 loyang," kata Zuhriah.

Bila bulan Puasa tiba, omzet Zuhriah melonjak tajam. Sehari ia bisa memproduksi 400 loyang. Ia pun butuh karyawan lebih banyak lagi. "Biasanya kami dibantu oleh 40 orang," kata Zuhriah. Untungnya hampir semua orang Banjar bisa membuat kue ini. "Jadi hampir tiap bulan puasa banyak orang menawarkan jasanya membantu membuat," timpal Netty.

Di halaman belakang rumahnya, Zuhriah membangun sebuah tempat pembakaran. Di sana tungku-tungku arang terpasang. Di sisi kanan rumah terdapat belasan tungku. "Kalau sudah masuk Ramadhan, tiap hari hiruk pikuk membuat kue terjadi di sini," kata anak perempuan semata wayang Zuhriah-Fuad yang berniat meneruskan usaha orang tuanya.

Lama-kelamaan, bingka menjadi oleh-oleh khas Banjarmasin. Pembelinya tak hanya orang Banjar, bahkan dari luar provinsi pun banyak yang pesan. "Dari orang biasa sampai pejabat. Hampir setiap tamu provinsi pesan bingka pada kami untuk oleh-oleh," kata Netty yang sedang berguru pada ibunya. "Saya ingin bisa membuat bingka yang rasanya mirip buatan Ibu,"

Sebenarnya, Zuhriah ingin memperluas pasar sampai ke luar pulau. Namun, ada kendala bila mengingat bingka tak tahan lama. "Kami sedang berpikir bagaimana caranya bisa menjual bingka ini di luar Banjarmasin, misalnya di Surabaya. Saya bercita-cita bisa memperluas usaha istri saya," tekad Fuad.

Meskipun usaha membuka cabang masih rencana, Zuhriah mengaku bahagia dengan perkembangan bisnisnya. "Aduh, rasanya bangga juga ya. Ternyata yang dulunya hobi sekarang dinikmati banyak orang," ujar Zuhriah.


KARDUS PUN DIBAJAK


Kemasan merupakan salah satu nilai tambah untuk meningkatkan minat beli. Awalnya, Zuhriah menjual bingkanya hanya dengan kemasan plastik dan kertas kue. Kemasan ala kadarnya ini dirasakan tidak menarik. Oleh karenanya, dibantu sang suami membeli beberapa kardus ukuran sedang untuk mengemas bingka kami.

Pengemasan dengan kardus ini berlangsung cukup lama. Sampai suatu hari, "Kami berpikir, kenapa tidak menggunakan kardus dengan merek nama usaha kami," lanjut Fuad. Sejak itu, Fuad mulai mencari orang yang mau membuatkan kardus bercap nama usahanya.

Jadilah sejak beberapa tahun lalu bingka buatan Zuhriah dikemas dengan tulisan Bingka Bunda, Wadai Khas Banjar. Kardus didominasi warna merah dan kuning dengan dasar putih. Nama Bingka Bunda sendiri sudah dikenal orang sebelum dibuat kemasan dengan mencantumkan merek ini. "Nama Bunda dipilih karena bingka ini buatan Ibu," kata Netty yang belum mempatenkan nama Bingka Bunda karena masih bingung dengan prosedur pembuatan paten.

Sejak dibuat kardus bermerek, penampilan bingka Zuhriah tampak semakin menarik. Peminatnya pun semakin banyak. Bahkan bingka Zuhriah diakui sebagai bingka nomor satu di kotanya. "Mungkin karena cuma kami yang mengemas bingka dengan kardus yang sudah bermerek," kata Netty merendah. Menurut pengamatannya, bingka-bingka lain paling hanya dikemas dalam kardus polos seperti yang pernah dilakukannya beberapa tahun lalu.

Di kardus bingka ada tulisan, "Habis pakai kardus dibuang." Anjuran ini dibuat lantaran sering ada orang iseng menggunakan kardus bekas untuk mengemas bingka buatannya. Gara-gara itu pula Zuhriah pernah dikomplain pelanggannya. "Ada yang protes rasa bingka Bunda sudah berubah. Makanya kami cetak anjuran itu dalam kardus agar setelah dipakai kardus tersebut dirusak dan dibuang sehingga tidak bisa digunakan lagi," kata Netty.

HARUS ADA ARANG


Bingka terbuat dari santan, gula, tepung, dan telur yang dibakar di atas arang panas. Bentuk kue seperti bunga berkelopak enam. Jika sudah matang warnanya akan menjadi kuning kecokelatan. Bingka khas Banjar adalah bingka rasa kentang. Namun, Zuhriah lebih mengembangkannya. "Saya juga membuat bingka rasa nangka, tape ketan hijau, telur, dan kelapa muda," ujar Zuhriah yang menjual bingka Rp. 12.500 per loyang.

Proses pembuatan bingka cukup merepotkan. Ada banyak catatan yang harus diperhatikan agar seseorang sukses membuatnya. Di antaranya telur. Untuk satu loyang dibutuhkan empat telur. Telur yang digunakan adalah telur ayam yang membuat lembek dan bebek yang membuat keras. Perbandingan takaran telur ayam dan bebek harus seimbang sehingga kue tidak terlalu lembek atau terlalu keras.

Yang lebih merepotkan sekaligus unik adalah pada proses pembakaran. Pembakaran tradisional adalah meletakkan pinggan tatakan yang sudah ditaburi abu gosok di atas tungku arang. Kemudian di atas pinggan diletakkan loyang bingka yang sebelumnya sudah dipanaskan. Pada loyang tersebut adonan bingka dituangkan hingga menjadi kue yang matang. Loyang ditutup. Di atas tutup ditaruh panci yang berisi arang panas.

Pada pembuatan bingka, arang adalah hal penting yang harus ada. "Sebab tanpa arang, kue tak mau mengembang," kata Zuhriah yang pernah mencoba memanggang bingka dengan oven listrik. "Saya mulai berpikir untuk membeli oven sebagai alat pembakaran. Permintaan, kan, makin bertambah. Dengan oven, saya harap produksi pun meningkat dan butuh waktu yang lebih cepat. Nyatanya setelah menggunakan oven listrik, bingkanya gagal semua," kata Zuhriah. Kini alat modern itupun terpaksa teronggok di sudut dapur.


Sumber: Tabloid Nova
Read More

Kisah Wirausaha Sukses Dari Pekanbaru|Sukses Bolu Kemojo

Bolu Bantat Ala Pekanbaru

BARU BERUSAHA SUDAH DAPAT EJEKAN


Makanan tradisional masyarakat Riau ini sekarang jadi oleh-oleh khas daerah. Salah satu perintisnya adalah seorang ibu yang awalnya tak hobi masak. "Dulu, jualan pun saya malu," ujarnya.

Tak lengkap rasanya bila ke Riau tidak membawa oleh-oleh bolu kumojo. Ya, bolu kumojo sudah jadi oleh-oleh khas masyarakat Riau. Dinawati, SAG termasuk perintis yang mengangkat bolu kumojo. Dina mengisahkan, ia menekuni usaha ini karena gemas melihat bolu kumojo tidak banyak dilirik, termasuk putra daerah sendiri. "Sebenarnya kue ini sudah populer di masyarakat Riau. Namun, tidak ada yang mengelolanya jadi usaha menjanjikan," ujar Dina memulai cerita.


Nama kumojo sendiri ada sejarahnya. Dina menjelaskan, nama ini sudah ada sejak nenek moyang. "Bolu ini memiliki delapan lekukan mirip bunga kamboja," cetus Dina. Oleh karena dialek yang berbeda di lidah orang Melayu, lama-kelamaan nama itu berubah. Ada yang bilang kumojo, kembojo, kemoje. "Kebetulan saya dari Bengkalis, maka saya terbiasa menyebut kumojo," lanjut Dina.

Sejak tahun 1999, bermodal Rp 15 ribu, Dina mulai konsentrasi menekuni usaha. Ia memberi nama usahanya dengan merek Al Mahdi. "Semula, saya hanya membuat bolu bila ada pesanan. Setelah itu, saya memproduksi bolu kumojo khusus rasa pandan tiap hari," terang wanita berkerudung ini.

 
DAPAT BANYAK PESANAN
Bukan hal gampang bagi Dina untuk menjalankan usahanya. Belum-belum ia sudah dapat ejekan dari orang luar Melayu. Pasalnya, harga bolunya dianggap terlalu mahal dibandingkan kue sejenis. Belum lagi ukurannya yang lebih kecil. "Super market pun tidak mau terima bolu buatan saya," kenang Dina.

Akan tetapi, Dina tak patah semangat. Sebaliknya, ia justru semakin bertekad untuk mempopulerkan bolu tersebut. "Pikir saya waktu itu, kalau orang datang ke Riau, dia harus tahu kue melayu termasuk bolu kumojo ini," ujar Dina yang awalnya hanya membuat 10 buah. "Bakar kuenya pun masih pakai arang. Tradisional sekali."

Usaha Dina terus berkembang. Ia pun mendapat banyak pesanan. Bila semula hanya rasa pandan, Dina membuat beragam rasa lagi. "Yang paling diminati tetap rasa pandan. Tapi, kami juga memenuhi permintaan pesanan. Antara lain saya membuat rasa durian dan jagung. Kalau buat rasa jagung, saya pakai jagung manis. Untuk rasa durian, saya pilih durian yang kualitas bagus," tutur Dina yang punya motto, "Tidak lengkap kunjungan Anda tanpa Bolu Kumojo."

Dina teramat lancar menjelaskan bagaimana cara membuatnya. "Bahan bakunya tepung terigu, gula, telur ditambah santan kelapa, juga ada ditambah perasan pandan dan sedikit pasta. Penggunaan pastanya tak sembarangan, tapi harus pasta kue supaya warna nya cantik."

Meningkatnya usaha, tentu saja Dina butuh tenaga bantuan. Ia pun mulai merekrut karyawan. Ternyata, bukan hal gampang. "Mereka tidak tahu sama sekali cara memproduksi bolu ini. Mereka tidak bisa membuat sesuai dengan takaran yang pas. Makanya saya perlu mengajari mereka sekaligus mengontrol mutu. Dulu ada yang complain, katanya ada kulit telur yang masuk. Lama kelamaan bisa teratasi karena pegawai saya sudah terampil."

Dina mengaku memperlakukan khusus pegawainya. "Saya tekankan pada mereka bahwa kami keluarga. Mencari tenaga kerja itu, kan, susah. Makanya saya tak ingin menyia-nyiakan mereka. Sebelum ada karyawan, dulu saya dibantu keluarga,"

Dina kini memiliki 10 pegawai. "Ini terdiri dari bagian pengadaan bahan baku, produksi, pengepakan, pembakaran, pemasaran, dan pembukuan."

MALU BANTU IBU
 
Upaya lain Dina meningkatkan usahanya, ia terus berupaya memperbaiki kualitas produk. Salah satu caranya, ia terus memodifikasi rasa agar sesuai keinginan banyak konsumen. "Resep terdahulu rasanya sangat manis, yang belum tentu cocok dengan lidah semua orang. Padahal, masyarakat kita beragam. Akhirnya saya berkesimpulan, bolu yang disukai rasanya mesti gurih, tidak terlalu manis."

Resep baru Dina terbukti jitu. Pelanggannya justru semakin banyak. Sama sekali ia tak menyangka, kini omset usahanya per bulan bisa mencapai sekitar Rp 20 juta - Rp 25 juta. Apalagi, ia merasa sebenarnya tak punya jiwa wirausaha. Ayahnya adalah kepala SD dan ibunya seorang ibu rumah tangga. "Tahu enggak, dulu saya malu membantu ibu jualan pisang goreng. Padahal, Ibu jualan di depan rumah," ujar Dina tertawa terbahak.
Bahkan, semasa mahasiswa, Dina mengaku tidak bisa masak. Namun, setamat kuliah di IAIN dan berkeluarga, ia paham betapa sulitnya menambah penghasilan.

"Gaji saya waktu itu sebagai guru madrasah tidak terlalu besar. Mau tak mau, saya harus mencari usaha lain. Mulailah saya usaha kecil-kecilan. Awalnya saya beli semangka, saya potong-potong dan saya jual ke warung-warung. Pernah juga saya buat kue donat."

Sampai akhirnya Dina terpikir mengembangkan bolu kumojo. Lewat proses perjuangannya, ada satu hikmah yang Dina petik. "Mesti ada kejelian dalam memandang keadaan. Saya pun terus berusaha menumbuhkan jiwa wirausaha saya," tutur Dina yang menikah dengan Mahlil Zulfli, SAG,

Sekarang, Dina mampu membuat adonan sekitar 20 kg. "Kalau ada mo men-momen tertentu seperti Festival Melayu kemarin bisa sampai 50 kg," ujar Dina seraya menyebutkan kekhasan bolu kreasinya. "Bolu ini mengembangnya tidak sewajarnya. Mungkin bisa dibilang semacam bantat gitu," imbuh wanita berpawakkan mungil ini lagi.

Dina sempat mengajak NOVA melihat ke dapur pembuatan bolu. Di dapur yang berukuran sekitar 4 x 4 meter ini, Dina meneruskan ceritanya. Menurut Dina, bolu kumojo ini memiliki dua klasifikasi harga. "Untuk pandan selera konsumen kebanyakan itu harganya Rp 6.000 per kotak. Sedangkan pandan yang benar-benar melayu, rasa jagung, dan durian harganya Rp 10 ribu per kotak."

CARI BAPAK ANGKAT

Soal kemasan, Dina mengaku awalnya sama sekali tak tahu-menahu. "Namanya juga orang awam. Jadi, enggak tahu bagaimana menampilkan supaya produk itu
menarik konsumen." Hingga suatu saat, Dina melihat kue yang diletakkan di piring kertas. Dina pun mencoba menirunya. Setelah bolu ditata di piring kertas, ia memasukkannya ke dalam kotak. "Jadilah pengemasannya seperti itu," cetus Dina.

Setelah usahanya berjalan lancar, dengan bangga Dina berujar tak mau lagi kerja kantoran. "Saya senang kerja seperti ini," ujar aktivis Muslimat Nahdatul Ulama ini. "Saya menjabat Sekretaris Asosiasi Industri Pangan Riau."

Menurut Dina, kemajuan usahanya tak lepas dari peran pemerintah maupun swasta. "Mereka mensupport kita baik moral maupun material. Sekarang saya terus berusaha mencari bapak angkat yang bisa menjadi mitra usaha. Istilahnya yang mau menggembleng," ungkap Dina yang dalam waktu dekat akan mendirikan counter-counter di tempat keramaian supaya usahanya lebih bisa menarik perhatian masyarakat.

Harapan Dina, ada orang yang berbakat dan berminat pula jadi pembuat bolu kumojo. Memangnya enggak takut tambah saingan? "Oh enggak. Justru saya sangat mengharapkan ada lagi pembuat bolu kumojo. Ini supaya kita bisa memenuhi permintaan pasar yang cukup besar dan sulit kami tangani."

Selain itu, Dina tengah berupaya mencari cara bagaimana tiap hotel di Riau bisa menampilkan bolu kumojo sebagai oleh-oleh. "Saya terus berupaya melihat perluang. Soalnya, hampir semua pengunjung hotel selalu tanya kekhasan Pekanbaru. Sayang, saya belum mampu menyuplai hotel," paparnya.

Kendati demikian, Dina sudah bahagia karena usaha yang dirintis sudah menjadi salah satu oleh-oleh yang dicari masyarakat

Sumber: Tabloid Nova
Read More

Kisah Wirausaha Sukses|Wirausaha Kuliner Wirausaha Es Putar Semarang

Sukses Pedagang Es Putar di Semarang

TUJUH ANAK SUDAH DI BELIKAN RUMAH


Semasa kecil, di kawasan pecinan Semarang, ia dikenal sebagai kacung cilik. Berkat perjuangan kerasnya, ia jadi juragan es putar. Saking larisnya, hanya beberapa jam jualan, dagangannya langsung ludes. Kendati hidupnya sudah sejahtera, ia tetap sederhana.

Es putar. Siapa, sih, yang tidak suka? Di Semarang, es putar bikinan Cong Lik (76), amat disukai konsumen karena kelezatannya. Begitu legendarisnya es putar Cong Lik, pelancong dari luar kota banyak yang mampir ke warungnya saat singgah di Semarang.
Uniknya, Cong Lik tak berjualan es saat siang yang begitu terik. Ia berjualan mulai pukul 19.00 di Gang Warung. "Maunya, sih, jualan siang hari. Tapi susah cari tempatnya. Sewa, kan, mahal. Nah, di Gang Warung ini saya tidak menyewa. Saya hanya memberi uang kebersihan pada kelurahan dan uang listrik pada pemilik toko yang terasnya saya pakai," ujar Cong Lik.

Kendati demikian, dagangan Cong Lik senantiasa laris. Itu sebabnya, Cong Lik membuka tiga cabang berturut-turut. Masing-masing di Jln. Seroja, Jln. MT.Haryono, dan
di depan swalayan Sarinah, Telogosari. "Di sana, anak-anak saya yang jualan. Rasanya, sih, sama saja. Resepnya, kan, dari saya," tutur ayah 7 anak dan kakek 9 cucu ini.

 

MULAI MANGKAL

Nama Cong Lik di kalangan pencinta es putar memang terkenal. Namun, banyak yang tidak tahu nama sebenarnya. "Saya orang Jawa tulen. Wong namanya Sukimin. Saya asal desa Gebanganom," tutur Cong Lik.
 
Lantas bagaimana sejarah nama itu? Cong Lik tidak ingat siapa yang pertama kali memberi julukan itu. Yang jelas "Cong Lik" singkatan dari kacung cilik (pembantu kecil). "Ceritanya semasa kecil saya jadi pembantu orang Jepang yang tinggal di Hotel Jansen, Semarang. Oleh majikan, saya sering disuruh-suruh, misalnya beli es krim. Orang-orang pun memanggil saya kacung cilik disingkat Cong Lik."

Usai Jepang meninggalkan Tanah Air, Cong Lik bekerja jadi pembantu pedagang es putar bernama Taryo yang asli Pekalongan. "Saya ikut ke luar masuk kampung menjajakan es putar," cetus Cong Lik yang tak ingin selamanya jadi kacung. "Saya mulai menabung. Setelah uang terkumpul, saya membeli gelas dan sendok. Saya ingin jualan sendiri."

Cong Lik menyampaikan keinginannya pada Taryo. Ia juga menyewa gerobak pada majikannya. Kendati sudah mandiri, tetap saja Sukimin dipanggil kacung cilik. "Saya malah berterima kasih pada mereka. Soalnya nama Cong Lik malah jadi berkah," ujarnya sambil tersenyum.

Dengan penuh ketekunan, Cong Lik menjajakan es putarnya dari kampung ke kampung. Pelanggannya mulai anak-anak sampai orang tua. Saking banyaknya yang suka, saat keliling di suatu kampung, banyak pembeli dari kampung lain yang memburunya. "Banyak, lho, pembeli yang tidak sabaran seperti itu."

Suatu ketika, ada pelanggannya yang tidak sabaran itu usul agar Cong Lik mangkal di satu tempat. "Maksudnya supaya calon pembeli tidak usah terlalu lama menunggu saya putar kampung. Usulan itu saya terima."

TIAP MALAM MOBIL BERDERET

Selanjutnya, Cong Lik yang tahun 1954 telah menikahi Ranten (74), membuka warung kaki lima di kawasan Mbesen. "Istri saya yang jualan di sana. Saya sendiri masih jualan dari kampung ke kampung. Ternyata, dagangan saya semakin laris. Saya mulai sering menerima pesanan," ujar Cong Lik.

Tak hanya dari Semarang, pesanan juga datang dari Surabaya dan Jakarta. "Banyak orang kaya dari luar daerah yang mau bikin pesta untuk perkawinan, pesan es di sini. Mereka tak sayang mengeluarkan banyak uang. Padahal, transportasinya harus pakai pesawat. Iya, lho, es putar saya sering naik pesawat, tapi saya malah belum pernah," katanya sembari terkekeh.

Untuk mengirim es putar ke luar daerah, Cong Lik mengenakan harga lebih tinggi daripada pesanan orang dalam kota. "Ngirimnya, kan, harus pakai boks khusus," ujar Cong Lik yang kini sebagai juru cicip. "Rasanya enggak boleh berubah. Harus pas dengan resep saya. Kalau berubah, bisa enggak laku."

Tahun 1992, Cong Lik memindahkan usahanya ke Gang Warung di depan toko kain. "Kalau malam toko ini tutup. Pemiliknya lalu mempersilakan Bapak buka disini tanpa dipungut uang sewa," tutur Ivon, anak bungsu Cong Lik.


Di tempat baru, pembelinya justru semakin banyak. Hampir setiap malam mobil berderet. "Banyak lho yang tidak mendapat tempat duduk," lanjut Ivon yang tiap malam menemani ibunya jaga di Gang Warung.

Bila musim panas, dalam sehari Cong Lik biasa memproduksi 10 tabung. "Kalau hujan paling cuma 8 tabung dengan 8 rasa yang berbeda. Soal rasa, biasanya sesuai musim buah," imbuh Ranten yang bangga pembelinya awet sampai puluhan tahun. "Ada lho yang sejak remaja sampai tua jadi pelanggan saya."

SUKA TINGGAL DI KONTRAKAN

Cong Lik mengalami masa panen ketika tiba hari-hari besar nasional dan musim ada hajatan. "Saya bisa bikin lebih dari 15 tabung. Satu tabung saya jual Rp 100 ribu - Rp 150 ribu. Harganya tergantung kemasan dan jenis buahnya. Es putar durian harganya paling mahal," kata Ranten.

Masih kata Ranten, harga semangkuk es di warungnya Rp 5 ribu. Hanya buka beberapa jam, biasanya dagangan sudah ludes. "Kalau lagi ramai, belum sampai jam sepuluh malam sudah habis. Tapi, kalau musim hujan, terkadang masih ada sisa," papar Ranten yang masih belanja sendiri.

Proses pembuatan es putar menurut Ranten amat sederhana. Setelah semua resep pokok es putar seperti gula, buah, air matang diadoni dalam tabung tertutup, selanjutnya diletakkan di tengah-tengah es batu yang telah dicampur garam. Selanjutnya tabung khusus itu diputar-putar sampai uap es masuk ke dalam tabung dan mengkristalkan adonan di dalamnya.

Meski tampak gampang, tidak semua orang dapat membuatnya. Terutama soal resep yang pas di lidah. Tak heran, Cong Lik sering kali menerima tawaran dari para pemilik modal di Jakarta, Surabaya, dan Semarang agar membeberkan resepnya. "Ada yang mau belajar dengan memberi sejumlah uang. Katanya mau buka restoran es. Nantinya tetap pakai nama Cong Lik."

Namun, Cong Lik dan Ranten tidak bersedia menerima tawaran kerja sama. Alasannya sederhana. "Rezeki yang kami peroleh sudah cukup. Kami sudah bersyukur. Bayangkan, dulu kamar yang kami sewa, untuk tidur berdua dengan suami saja enggak cukup. Kalau hujan, kami kehujanan. Alhamdulillah sekarang kami tidak kepanasan dan kehujanan," tutur Ranten penuh rasa syukur.

Ranten pantas bersyukur karena hasil jualan es putar memang mampu menyejahterakan keluarganya. "Semua anak sudah saya belikan rumah. Tapi, saya lebih suka tinggal di rumah kontrakan di belakang Pasar Dargo. Soalnya biar gampang kulakan es dan buah," ungkap Ranten.



Dari 7 anaknya, hanya 3 yang berminat jualan es. "Saya tidak maksa anak-anak harus jualan es. Kalau dipaksa malah enggak baik. Silakan mereka mau apa saja boleh. Kalau punya minat, saya beri resep biar rasanya sama dengan yang saya jual di Gang warung," tutur Ranten yang kini memegang kendali usahanya. "Habis saya sudah tua. Baca tulis juga enggak bisa. Istri saya ini, kan, pinter. Biar dia yang ngurus semua," timpal Cong Lik.

Kendati memiliki beberapa rumah dan dua mobil, Cong Lik memang tampak bersahaja. Ia tetap ramah pada siapa pun yang datang padanya. Lalu, apa kiat suksesnya? "Kalau mau berhasil, orang harus berjuang. Harus kerja keras. Kalau enggak mau berjuang, mana mungkin akan hidup enak," ujarnya bijak.

Sumber: tabloid nova
Read More
Powered by Blogger.

© 2011 Kisah Wirausaha, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena