Kue Bingka Bunda Banjarmasin
KHAS RASANYA, UNIK MEMBUATNYAHobi bisa jadi bisnis menjanjikan. Ini dibuktikan seorang ibu dari Banjarmasin yang gemar membuat kue. Jenis kue yang diliriknya adalah kue khas orang Banjar bernama bingka. Kini bingka buatannya sudah jadi salah satu oleh-oleh khas dari Banjarmasin.
Bermula dari hobi, Hj. Zuhriah (59) menjadi pengusaha kue yang sukses. Zuhriah masih ingat betul, sekian tahun lalu ketika sang suami, Drs. H. Fuad (64), menjabat kepala sekolah sebuah SMA di Amuntai (Kalsel), mereka tinggal di pusat kota. Persis di depan rumah ada seorang pedagang telur ayam dan bebek. "Setiap hari saya beli telur yang cangkangnya pecah atau retak murah, Saban hari saya membeli telur untuk bahan membuat kue untuk santapan keluarga," kenang Zuhriah.
Tak hanya keluarga, teman-temannya pun tahu, Zuhriah piawai mengolah kue yang lezat. Hobi Zuhriah berkembang ketika mereka pindah ke Banjarmasin, ibukota Kalsel. Di kota Seribu Sungai ini tiap bulan puasa diselenggarakan Festival Kue Ramadhan. Pada tahun 1984, seorang teman Zuhriah mengajaknya bermula dari hobi, Hj. Zuhriah (59) menjadi pengusaha kue yang sukses. Zuhriah masih ingat betul, sekian tahun lalu ketika sang suami, Drs. H. Fuad (64), menjabat kepala sekolah sebuah SMA di Amuntai (Kalsel), mereka tinggal di pusat mengisi gerainya. "Ayolah, ikut saja. Kue yang mau saya jajakan masih kurang untuk mengisi kios," ajak teman Zuhriah. Zuhriah pun setuju.

Zuhriah memilih membuat wadai Bingka, kue khas Banjar. Wadai dalam bahasa Banjar berarti kue. Rasanya mirip kue lumpur. Seperti kolak, hampir tiap hari kue bingka disajikan saat bulan puasa. "Awalnya, kue buatan Ibu tak laris. Dari 40 loyang, sehari paling laku 20 loyang. Terpaksa kue yang tak laku tiap hari dibagikan pada tetangga. Maklum bingka, kan, kue basah yang hanya tahan sehari semalam," cerita Netty Asistina Suciati (34), anak sulung Zuhriah.
Namun, Zuhriah tak putus asa. Ia tetap menjajakan kuenya. Hanya butuh waktu dua minggu, bingka buatannya mulai banyak peminat. "Setelah itu tidak ada lagi bingka yang tersisa," lanjut Netty.
JADI OLEH-OLEH KHAS
Tahun-tahun berikutnya, Zuhriah rutin ikut festival. Lama-kelamaan, rasa bingka made in Zuhriah sudah menancap di lidah langganannya. Tak heran meski Ramadhan usai, masih ada saja orang yang mengetuk pintu rumahnya memesan wadai berwarna kuning kecokelatan ini. "Saya mulai kewalahan. Sekarang, tiap hari selalu saja ada yang pesan. Nah, saya pun dibantu tiga karyawan. Sehari kami buat buat 50 loyang," kata Zuhriah.Bila bulan Puasa tiba, omzet Zuhriah melonjak tajam. Sehari ia bisa memproduksi 400 loyang. Ia pun butuh karyawan lebih banyak lagi. "Biasanya kami dibantu oleh 40 orang," kata Zuhriah. Untungnya hampir semua orang Banjar bisa membuat kue ini. "Jadi hampir tiap bulan puasa banyak orang menawarkan jasanya membantu membuat," timpal Netty.
Di halaman belakang rumahnya, Zuhriah membangun sebuah tempat pembakaran. Di sana tungku-tungku arang terpasang. Di sisi kanan rumah terdapat belasan tungku. "Kalau sudah masuk Ramadhan, tiap hari hiruk pikuk membuat kue terjadi di sini," kata anak perempuan semata wayang Zuhriah-Fuad yang berniat meneruskan usaha orang tuanya.
Lama-kelamaan, bingka menjadi oleh-oleh khas Banjarmasin. Pembelinya tak hanya orang Banjar, bahkan dari luar provinsi pun banyak yang pesan. "Dari orang biasa sampai pejabat. Hampir setiap tamu provinsi pesan bingka pada kami untuk oleh-oleh," kata Netty yang sedang berguru pada ibunya. "Saya ingin bisa membuat bingka yang rasanya mirip buatan Ibu,"
Sebenarnya, Zuhriah ingin memperluas pasar sampai ke luar pulau. Namun, ada kendala bila mengingat bingka tak tahan lama. "Kami sedang berpikir bagaimana caranya bisa menjual bingka ini di luar Banjarmasin, misalnya di Surabaya. Saya bercita-cita bisa memperluas usaha istri saya," tekad Fuad.
Meskipun usaha membuka cabang masih rencana, Zuhriah mengaku bahagia dengan perkembangan bisnisnya. "Aduh, rasanya bangga juga ya. Ternyata yang dulunya hobi sekarang dinikmati banyak orang," ujar Zuhriah.
KARDUS PUN DIBAJAK
Kemasan merupakan salah satu nilai tambah untuk meningkatkan minat beli. Awalnya, Zuhriah menjual bingkanya hanya dengan kemasan plastik dan kertas kue. Kemasan ala kadarnya ini dirasakan tidak menarik. Oleh karenanya, dibantu sang suami membeli beberapa kardus ukuran sedang untuk mengemas bingka kami.
Pengemasan dengan kardus ini berlangsung cukup lama. Sampai suatu hari, "Kami berpikir, kenapa tidak menggunakan kardus dengan merek nama usaha kami," lanjut Fuad. Sejak itu, Fuad mulai mencari orang yang mau membuatkan kardus bercap nama usahanya.
Jadilah sejak beberapa tahun lalu bingka buatan Zuhriah dikemas dengan tulisan Bingka Bunda, Wadai Khas Banjar. Kardus didominasi warna merah dan kuning dengan dasar putih. Nama Bingka Bunda sendiri sudah dikenal orang sebelum dibuat kemasan dengan mencantumkan merek ini. "Nama Bunda dipilih karena bingka ini buatan Ibu," kata Netty yang belum mempatenkan nama Bingka Bunda karena masih bingung dengan prosedur pembuatan paten.
Sejak dibuat kardus bermerek, penampilan bingka Zuhriah tampak semakin menarik. Peminatnya pun semakin banyak. Bahkan bingka Zuhriah diakui sebagai bingka nomor satu di kotanya. "Mungkin karena cuma kami yang mengemas bingka dengan kardus yang sudah bermerek," kata Netty merendah. Menurut pengamatannya, bingka-bingka lain paling hanya dikemas dalam kardus polos seperti yang pernah dilakukannya beberapa tahun lalu.
Di kardus bingka ada tulisan, "Habis pakai kardus dibuang." Anjuran ini dibuat lantaran sering ada orang iseng menggunakan kardus bekas untuk mengemas bingka buatannya. Gara-gara itu pula Zuhriah pernah dikomplain pelanggannya. "Ada yang protes rasa bingka Bunda sudah berubah. Makanya kami cetak anjuran itu dalam kardus agar setelah dipakai kardus tersebut dirusak dan dibuang sehingga tidak bisa digunakan lagi," kata Netty.
HARUS ADA ARANG
Bingka terbuat dari santan, gula, tepung, dan telur yang dibakar di atas arang panas. Bentuk kue seperti bunga berkelopak enam. Jika sudah matang warnanya akan menjadi kuning kecokelatan. Bingka khas Banjar adalah bingka rasa kentang. Namun, Zuhriah lebih mengembangkannya. "Saya juga membuat bingka rasa nangka, tape ketan hijau, telur, dan kelapa muda," ujar Zuhriah yang menjual bingka Rp. 12.500 per loyang.Proses pembuatan bingka cukup merepotkan. Ada banyak catatan yang harus diperhatikan agar seseorang sukses membuatnya. Di antaranya telur. Untuk satu loyang dibutuhkan empat telur. Telur yang digunakan adalah telur ayam yang membuat lembek dan bebek yang membuat keras. Perbandingan takaran telur ayam dan bebek harus seimbang sehingga kue tidak terlalu lembek atau terlalu keras.
Yang lebih merepotkan sekaligus unik adalah pada proses pembakaran. Pembakaran tradisional adalah meletakkan pinggan tatakan yang sudah ditaburi abu gosok di atas tungku arang. Kemudian di atas pinggan diletakkan loyang bingka yang sebelumnya sudah dipanaskan. Pada loyang tersebut adonan bingka dituangkan hingga menjadi kue yang matang. Loyang ditutup. Di atas tutup ditaruh panci yang berisi arang panas.
Pada pembuatan bingka, arang adalah hal penting yang harus ada. "Sebab tanpa arang, kue tak mau mengembang," kata Zuhriah yang pernah mencoba memanggang bingka dengan oven listrik. "Saya mulai berpikir untuk membeli oven sebagai alat pembakaran. Permintaan, kan, makin bertambah. Dengan oven, saya harap produksi pun meningkat dan butuh waktu yang lebih cepat. Nyatanya setelah menggunakan oven listrik, bingkanya gagal semua," kata Zuhriah. Kini alat modern itupun terpaksa teronggok di sudut dapur.
Sumber: Tabloid Nova

