Kisah Wirausaha

Pengusaha Boneka Lucu|Dewanto Purnomo

Mantan Karyawan BUMN Jualan Boneka di Internet



TIDAK semua orang berani memutuskan keluar dari pekerjaan yang telah sekian lama ditekuni dan menghasilkan kenyamanan dari gaji tetap, untuk sepenuhnya berwirausaha.

Langkah berani itulah yang dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan sebagai seorang pengusaha. Langkah kurang populer itu pula yang diambil oleh Dewanto Purnomo, yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN), kemudian memulai bisnis menjual boneka melalui internet.

Sebagaimana pengusaha cerdas lain, langkah berani yang diambil Dewanto bukannya tanpa dasar. Sejak dua tahun lalu bapak tiga anak ini telah mencoba memahami seluk beluk bisnis yang akan digelutinya ini. Beberapa website khusus penjualan boneka bahkan telah dikembangkan oleh Dewanto, di antaranya bonekalucu.com, bonekabesar.com, serta bonekabear.com.

“Responsnya cukup besar. Sebagian besar dari daerah Kalimantan,” ujarnya kepada SINDO beberapa waktu lalu. Awal Dewanto memulai usaha ini adalah ketika melihat seorang rekan mengalami kesulitan memasarkan boneka yang diproduksinya. Dewanto, yang sejak awal telah mengetahui berbagai keunggulan internet, kemudian mencoba membantu rekannya itu dengan membuat website.

“Saat itu saya melihat ada peluang usaha yang bisa dimasuki.Kemudian memutuskan untuk berkecimpung dalam bisnis ini.Tentu saja saat itu hanya sebagai usaha sampingan,” paparnya. Ternyata, animo masyarakat terhadap website yang dikembangkan pria yang memiliki hobi membaca ini cukup besar.

Belakangan Dewanto baru menyadari banyaknya masyarakat yang menggunakan mesin pencari di dunia maya untuk membeli boneka secara online. Hal itu makin diyakininya setelah dia mengenal beberapa rekan bisnis yang juga memiliki strategi penjualan via internet. Dengan modal awal Rp15 juta, mulailah pria kelahiran 1971 itu mendatangi sejumlah produsen boneka terbesar di Indonesia yang berada di Bekasi, untuk menjadi penghubung antara produsen dan pembeli.

Semakin lama langkah itu semakin memantapkannya menggeluti bisnis boneka. Hampir semua jenis boneka dijual Dewanto.Target pasarnya adalah eceran dan grosir. Terkadang ada juga konsumen yang mencari boneka untuk kebutuhanpromosi. Biasanya yang membutuhkan boneka untuk kebutuhan promosi adalah perusahaan, yang umumnya memesan dengan jumlah banyak.

Karena masih memiliki keterbatasan sumber daya, sejumlah permintaan pembelian boneka dari korporasi dia tolak. Jika dilihat dari sisi keuntungan, penjualan eceran dan grosir relatif lebih menguntungkan daripada kepada perusahaan. Ini karena perusahaan lebih banyak meminta diskon akibat dana promosi telah dianggarkan sebelumnya. “Selain itu, waktu pemesanannya pun kadang sangat mepet,” katanya.

Kendati begitu, Dewanto mengaku tetap menerima permintaan pembelian boneka dari korporasi. Bahkan bersama beberapa rekan Dewanto berencana membuka gerai di sejumlah daerah untuk menjual boneka dan mainan anak. Kehadiran gerai tersebut bisa memenuhi permintaan dari sejumlah perusahaan yang hendak memesan boneka.

Untuk permintaan grosir atau eceran, sebagian besar konsumen yang membeli boneka melalui Dewanto berasal dari luar Pulau Jawa. Hal itu sesuai dengan karakteristik penjualan lewat online yang sebagian besar adalah masyarakat yang membutuhkan dan secara material mampu, tapi memiliki keterbatasan ruang dan waktu.

“Saya pernah dikontak oleh konsumen yang bekerja di Freeport, Papua. Konsumen ini ingin memberikan hadiah ulang tahun kepada anaknya yang berada di Medan. Mereka punya uang, tapi tidak bisa keluar untuk membeli boneka. Maka mereka pun mencari penjual boneka di internet dan meminta mengirimkan boneka itu ke Medan,” paparnya.

Karena permintaan terus bertambah banyak, akhirnya Dewanto memutuskan untuk menambah mitra pemasok dan pabrik pembuatan boneka. Setidaknya sudah ada 12 mitra Dewanto yang siap menyuplai jenis boneka apa pun. Apalagi, setiap bulan ada saja permintaan boneka yang spesifik dan hanya bisa dipenuhi oleh pemasok atau pabrik tertentu.

Hanya dalam tiga bulan setelah memulai usaha modal awal Dewanto sebesar Rp15 juta sudah kembali dan sekarang dia telah menjual 15 kategori boneka. Dari boneka karakter hingga jenis bantal. Menurut dia, boneka beruang berbagai ukuran merupakan boneka yang paling banyak dicari.

Lantaran lama berjualan boneka, Dewanto mengaku cukup tahu ciri boneka berkualitas. Menurut dia, boneka bermutu bagus memiliki ciri spesifik, di antaranya bentuknya akan segera kembali normal jika dipencet dengan tangan. Penjualan boneka pun dipengaruhi tren. “Misalnya, boneka berwarna merah laris pada Tahun Baru China, warna merah muda laku pada Hari Valentine. Kalau sekarang sedang tren warna ungu dan hijau. Tapi secara umum konsumen banyak mencari boneka berwarna cokelat,” paparnya.

Dewanto mengaku awalnya juga bingung karena banyaknya jenis boneka. “Tapi ternyata ada juga pelanggan fanatik yang membeli boneka jenis tertentu. Tapi paling banyak adalah boneka beruang dari berbagai ukuran. Ini best seller dari produk kami. Biasanya per bulan bisa lima sampai 10 boneka jenis ini yang keluar,” tuturnya.

Soal harga tentu bervariasi. Ada yang murah, ada pula boneka yang harganya di atas Rp700 ribu per buah. Seiring berjalannya waktu, Dewanto mengaku permintaan pasar terus meningkat. Kini Dewanto sedang mengupayakan agar usahanya bisa diwaralabakan. Untuk merealisasikannya dia tengah menjalin kerja sama dengan rekannya membuat konsep waralaba.

Meski saat ini usaha sudah terbilang sukses, ternyata pada awalnya mendapat tentangan dari keluarga. Dewanto menuturkan bahwa setiap pilihan yang diambil pasti memiliki konsekuensi. Hal itu disadari oleh Dewanto  saat memilih mengundurkan diri dari tempatnya bekerja di sebuah BUMN.

Dia memilih untuk serius menekuni bisnis penjualan boneka online. “Sebenarnya tidak diizinkan keluarga, termasuk istri. Tapi saya sudah bisa meyakinkan mereka bahwa rezeki itu tidak hanya datang dari kantor,” kenang Dewanto saat memulai usaha. Dia mengaku bahwa langkah itu harus diambilnya agar hasil yang diperolehnya maksimal.

Selama dua tahun terakhir dia sering menggunakan waktu di sela-sela pekerjaan rutinnya untuk menjalankan bisnis ini. Pada suatu titik, dia mengaku tindakannya itu tidak adil terhadap perusahaan sehingga memilih untuk mengundurkan diri dan mantap menjalankan usaha bisnis boneka online.

“Apalagi saya sempat menerima surat peringatan (SP) dari atasan.Saya selalu ikhlas ketika dapat SP, karena memang sering telat kalau ordernya lagi banyak.Saya juga kerap minta izin,” katanya. Kini dia mengaku sangat optimistis dengan usaha yang dijalankan. Apalagi sekarang omzet bulanan usahanya telah mencapai puluhan juta.

Bahkan di masa datang dia yakin konsumen akan semakin menyadari berbagai keunggulan dengan membeli barang via internet. Dia yakin pula, ke depan akan semakin banyak orang yang terjun ke dunia pemasaran via internet. Dewanto tak segan membagi tips untuk mereka yang baru mau berkecimpung di bisnis ini.

Menurut dia,ada baiknya pemula terlebih dulu riset pasar melalui internet, di antaranya lewat situs researchinternet.com yang akan memandu jenis barang apa yang paling banyak dicari konsumen. “Setelah itu hubungi produsen atau distributor agar bisa memperoleh barang contoh yang diinginkan dengan harga lebih murah.

Lalu buat web sederhana,tapi yang bisa menunjang aktivitas pemasaran. Untuk kebutuhan itu semua, setidaknya diperlukan dana awal berkisar Rp5 juta- Rp10 juta,” ujarnya. Dewanto yakin orang akan beruntung jika memiliki kesempatan dan kesiapan. “Kesiapannya, kita punya produk. Kesempatannya ya peluang bisnis boneka online yang masih sangat besar,” tuturnya.


Sumber: Harian Sindo

Read More

KIsah Sukses Para Wirausaha BIsnis Boneka

CIRCA
Meraup Pasar Lewat Boneka Nusantara



Kebayang nggak jika pasangan Asep-Euis asal Sunda, dan pasangan Kadir- Baria asal Madura hadir dalam wujud boneka? Pasti sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi kedua pasang boneka tersebut didandani dengan pakaian tradisional, plus make-up serta tatanan rambut persis dengan ciri khas masyarakat aslinya.

Tak hanya itu, ada pula pasangan Putu-Sawitri dari Bali dan Jiun-Rodiah dari Betawi. Semua nama itu masuk dalam kategori boneka Nusantara, karya Ukke R. Kosasih (43). Berangkat dari keinginannya untuk melestarikan kekayaan tradisi budaya bangsa, ia memutuskan untuk berbisnis boneka yang mewakili berbagai macam suku bangsa di Indonesia.

Circa menjadi nama bisnis yang dipilih Ukke di awal 2006 lalu. Nama ini memiliki arti sebuah kurun waktu yang tidak akan ada habisnya. Suatu bisnis yang nantinya bisa diturunkan dari generasi ke generasi. “Bisnis ini akan menjadi heritage yang akan saya wariskan ke anak-anak didik saya,” ucap wanita asal Bandung ini. Yang dimaksud anak didik adalah pegawai-pegawainya, yang keseluruhannya wanita putus sekolah usia 20-23 tahun.

Berangkat dengan dua mesin jahit dan modal Rp 20 juta, Ukke mulai mengembangkan layar. Uang itu digunakan untuk merekrut tiga pegawai, membeli bahan (kain velt, belacu, dakron, brokat, dan wol), membeli pelengkapan alat-alat jahit, serta meja panjang lipat untuk tempat mengukur bahan. Setelah semua siap, ia pun melatih tenaga kerjanya.

Semua pengerjaan boneka itu dilakukan dengan tangan alias handmade. Mulai membuat pola, menjahit, mengisi dakron, memasang rambut, membuat baju, menggambar wajah (termasuk menyulam bulu mata), memasang aksesori (mata, hidung), hingga membungkus dalam plastik. Jelas, pekerjaan ini membutuhkan ketekunan, kesabaran, minat tinggi dan niat tinggi untuk belajar dan berkreasi. Pelan tapi pasti, setiap bulan ia dan timnya mampu menghasilkan 50 boneka. Saat itu boneka yang baru dipasarkannya adalah seri Nusantara yaitu si Putu-Sawitri dari Bali, dan seri Asia dari Jepang dengan nama Oyuki. Harganya berkisar antara Rp 75.000-Rp 150.000, dilihat besar kecilnya ukuran dan tingkat kerumitan.

Tak disangka, pembelinya cukup banyak, hingga setiap bulan ada keuntungan Rp 5 juta yang berhasil dikantongi. Hingga awal 2007, kapasitas permintaan naik menjadi 300 boneka per bulan. Bahkan sebuah department store di Bali memesan hingga 100 boneka. Agar tetap tertangani, ia menambah enam pegawai baru.

Untuk desain boneka, lulusan Universitas Indonesia jurusan Antropologi ini dibantu kakaknya, Joanita. Ide membuat boneka datang dari hasil penelitian tentang tradisi kebudayaan masyarakat dari daerah-daerah di tanah air. Jadi tidak asal-asalan. Sebab, setiap wanita dari daerah tertentu memiliki jenis konde berbeda, begitu pula dengan riasan dan kostumnya. “Agar mewakili aslinya, saya berburu bahan ke daerah asalnya, seperti di Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Bali,” tambahnya.

Selain mengandalkan pameran dan strategi pemasaran dari mulut ke mulut, Ukke juga memanfaatkan promosi gratis via internet melalui facebook. Alhasil, permintaan boneka Circa setiap tahun semakin tinggi. Ukke sempat keteteran mengejar produksi. Pasalnya pengerjaan setiap boneka membutuhkan ketelitian tinggi. “Salah menjahit atau menempel, maka harus diulang. Supaya kualitas tetap terjaga, tahun 2008 saya tambah lagi pegawai menjadi 11 orang,” ungkapnya.

Tahun 2009 Circa mengalami kenaikan omset yang luar biasa, mencapai Rp 20 juta per bulan. Bahkan, jumlah ini naik dua kali lipat di saat liburan. Peminatnya tak hanya orang lokal, namun juga turis mancanegara yang membelinya untuk cindera mata. Agar roda bisnisnya berputar semakin kencang, Ukke melakukan strategi pengembangan produk dengan menciptakan rangkaian seri kreasi baru. Beberapa di antaranya seri Kiddies (lewat karakter Sunday, Megan, Wood Elf, Vivian), Country (Joan, Nina, Pipi), dan boneka kaus seri Animal (Owie Owl, Sasa Sheep, Cathy Cat, Ducky Duck).


CATUR

Menjual Seni Lewat Washi Ningyo



Sedikit berbeda dari pengusaha lain, Catur Arie Setiyani (31) tidak mengawali bisnisnya dengan mematok target keuntungan materi. Ia justru mendasarkan usaha rumahannya itu pada niat untuk berbagi kesenangan. Meskipun mengaku tidak mementingkan keuntungan, nyatanya toko online Dieva's Craft yang dijalankannya sejak 2006 ini tetap bertahan hingga sekarang dan terus mendatangkan laba.

Washi Ningyo berasal dari kata Wa yang berarti Jepang, dan Shi, yaitu kertas. Sementara Ning berarti orang, dan Yo adalah bentuk. Apabila disatukan Washi Ningyo berarti bentuk orang dari kertas. Uniknya, meskipun hampir 100 persen bahan-bahannya dari kertas, Washi Ningyo bisa memiliki penampilan tiga dimensi layaknya boneka pada umumnya. “Sesuai tradisi, wajah boneka washi memang dibiarkan polos tanpa mata, hidung atau mulut,” jelas Catur.

Di awal usahanya, karyawati perusahaan industri gas ini harus merogoh modal sekitar 5 juta rupiah. Jumlah ini khusus untuk membeli material boneka, seperti kertas washi, kawat, dan clay (untuk kepala). Di luar itu, ia masih harus menginvestasikan uang untuk membeli buku-buku pembuatan washi yang totalnya mencapai 3 juta rupiah. Karena tidak dijual di Indonesia, Catur berburu buku lewat situs e-bay di internet atau menitip temannya di Jepang.

Boneka tradisional Jepang ini pembuatannya cukup rumit dan menuntut ketelitian tinggi. Apalagi jenis kertasnya benar-benar tipis, sehingga mudah rusak. “Sayang kan, ratusan ribu terbuang hanya gara-gara salah lipat atau tempel,” ujar lulusan Teknologi Informatika YAI, Jakarta ini. Pembuatan boneka washi ini memang padat modal. Bayangkan saja, selembar kertas washi berukuran A4 (21 x 29,7 cm) dihargai 20 ribu rupiah. Harga ini naik menjadi 80-150 ribu rupiah untuk ukuran kertas A0 (80 x 60 cm). “Semakin rumit dan indah pola kertas, harganya makin tinggi,” tambah Catur.

Untuk membuat satu boneka 3 dimensi (3D) berukuran tinggi 20 cm, setidaknya butuh 2 lembar kertas washi ukuran A4. Itu baru hitungan materi dan belum memasukkan nilai seni dan kreasi dari pembuatnya. “Rata-rata saya menghabiskan waktu sekitar 8 jam untuk membuat satu boneka 3D,” ungkap ibu dua anak, Faris (6) dan Dieva (4) ini. Agar bisa fokus, ia harus menunggu kedua anaknya tidur. Dan ini berarti ia harus terjaga hingga pukul dua dini hari!

Catur mengaku tidak mematok harga pasti untuk setiap karya seni yang dihasilkannya. Hal ini sangat bergantung pada kerumitan dan kecintaannya pada tiap boneka. “Setiap boneka seperti membawa sekeping hasrat dan kecintaan saya,” ujar Catur. Ia rata-rata bisa menghasilkan 10 boneka setiap minggu. Melihat keelokannya, pantaslah jika Catur membuka penawaran terendah 300 ribu rupiah untuk satu boneka.

Bagi pencinta boneka washi dan mereka yang paham seni, harga itu tidak seberapa. Catur mengaku, beberapa bonekanya laku dengan harga yang cukup tinggi, yaitu 800 ribu rupiah per buah. Bahkan dalam sebuah pameran, seorang turis asing berani membayar hingga satu juta rupiah demi bisa membawa pulang boneka washi karyanya. Padahal, boneka kesayangannya itu tadinya tidak untuk dijual. “Tidak menyangka penawaran saya langsung disanggupi,” sesalnya.

Selain menjual boneka jadi, Catur juga membuka kursus dan menjual kit (material untuk membuat satu boneka). Penjualan kit ini biasanya mencapai puncak di masa liburan, yaitu bisa mencapai 400–500 kit sebulan. Untuk kursus, ia memakai jatah liburan akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Tempatnya fleksibel, mengikuti kemauan si peserta. Untuk tingkat pemula, Catur mematok harga 50-100 ribu rupiah sekali kursus. Di tingkat ini ia akan mengajarkan pembuatan boneka dua dimensi. Untuk tingkat lanjut atau membuat boneka tiga dimensi, Catur mematok harga 200-300 ribu rupiah sekali datang. Enaknya, peserta tak perlu repot-repot mencari bahan sendiri, karena harga tersebut sudah termasuk kit. “Pokoknya dalam waktu sehari mereka sudah bisa membawa pulang satu boneka jadi,” ujarnya berpromosi.

Menurut Catur, kunci sukses bisnisnya itu terletak pada kekuatan komunitas. Ya, sebab rata-rata mereka yang berguru padanya adalah orang-orang yang memang memiliki ketertarikan khusus pada segala sesuatu tentang Jepang. Orang-orang seperti ini selalu ada setiap saat, sehingga ia tidak pernah kehabisan pasar. Selain itu, strategi marketing secara online sangat membantu. Dengan hanya mengeluarkan biaya 300 ribu rupiah/tahun untuk sewa hosting dan nama, pelanggannya bisa mengakses situsnya dievascraft.com setiap ada produk baru. Proses komunikasinya mudah, hanya melalui e-mail atau telepon. Begitu harga disetujui dan transaksi bank beres, barang akan segera dikirim.


SONYA
Berhasil Berkat ‘Jemput Bola’



Tak disangka, tahun 2001 merupakan awal kesuksesan berbisnis buat Sonya Chaterina (31). Dalam waktu dua jam, dagangan 100 boneka Teletubbies miliknya ludes terjual. Dan, dalam waktu supersingkat itu pula ia berhasil meraup keuntungan sebesar Rp 2 juta. Padahal boneka tersebut dibelinya di Mangga Dua, Jakarta, dan dijualnya di lapangan Gasibu, Bandung.

Tahu akan mudahnya berbisnis sampingan ini, Sonya yang saat itu masih kuliah tingkat akhir di Institut Teknologi Bandung jurusan Biologi, melakukan hal yang sama setiap akhir pekan. Selama empat bulan lamanya, ia memborong boneka dari Jakarta dan menjualnya di Kota Kembang.

Namun, karena kesibukan membuat skripsi, menikah, dan mengurus anak, bakat bisnisnya terpaksa harus disimpan untuk sementara waktu. Tahun 2005, angin segar mengenalkannya kepada seorang pemilik pabrik boneka. Pertemuan ini berhasil menginsipirasi dan membangkitkan bakat bisnisnya yang sempat mati suri. Dengan modal 100 boneka sisa yang tak terjual dari pabrik rekannya, Sonya berhasil mendapat keuntungan Rp 10.000-30.000 untuk setiap boneka yang berhasil dijualnya.

Setelah melihat-lihat, Sonya merasa yakin bahwa ia sebenarnya bisa membuat boneka yang lebih lucu. Dengan niat ini ia mulai mendesain boneka sendiri dan memajangnya di halaman blog pribadinya, bonekaku.blogspot.com. Idenya didapat dari surfing di internet, jalan-jalan di mal, menonton acara TV, serta hadiah boneka luar negeri dari teman. Karena memang desainnya lucu, menarik dan menggemaskan, jumlah permintaannya pun akhirnya meledak.

Ia yang awalnya hanya menjual ‘muntahan’ pabrik, akhirnya mencari material yang diperlukan untuk membuat pesanan, lalu menumpang pembuatan di pabrik temannya. “Modal saya Rp 20 juta untuk belanja bahan baku, aksesori boneka dan membayar ongkos kerja mereka. Harga bahan memang mahal, jika mau kualitasnya baik,” jelas Sonya yang kerap hunting bahan di Pasar Pagi Asemka, Glodok, Jakarta.

Kesuksesan bisnis Sonya diakui juga berkat strategi jemput bola yang dijalankan. “Saya rajin presentasi produk ke perusahaan, hotel, bank, universitas, biro iklan, yang menginginkan boneka maskot. Saya juga melayani permintaan pribadi untuk suvenir ulang tahun dan pernikahan,” tuturnya. Pernah terjadi sebuah perusahaan memesan hingga 15.000 buah. Saking kewalahan, Sonya menyebar order tersebut ke beberapa home industry boneka. “Saya tinggal kirim potongan bahan dan aksesori. Mereka yang membuat. Dengan cara itu target waktu 5 minggu bisa ditepati,” ungkapnya.

Karena setiap tahun kenaikan order mencapai 10 kali lipat, akhirnya daripada numpang produksi terus di tempat teman, Sonya membuka home industry sendiri. Modal yang ditanam sebesar 30 juta untuk membeli 5 mesin jahit, kontrak rumah, 1 alat potong bahan, membayar 3 karyawan serta membeli perlengkapan konveksi. Dengan punya produksi sendiri, ada beberapa keuntungan yang didapat, seperti quality control yang lebih bagus, serta manajemen waktu produksi yang lebih baik. “Sebelumnya saya harus antre agar pesanan saya bisa dikerjakan. Namanya juga numpang,” ulasnya.

Kini, per bulan ia bisa mempunyai omset Rp 30-100 juta, tergantung dari tinggi rendahnya permintaan. “Namanya bisnis, pasti ada pasang surutnya. Biasanya kalau pas ikut pameran di PRJ, atau perusahaan minta dibuatkan suvenir, atau pas hari Valentine, permintaan bisa melambung,” tuturnya bersemangat. Tahun ini ia punya 7 karyawan tetap.

Namun demikian, banjir order itu tidak lantas membuatnya menerima semua permintaan yang masuk. “Dulu, awal-awal usaha saya mengalami euforia. Demi mendapat keuntungan besar, inginnya semua order diambil. Namun sekarang, saya berani menolak order. Yang penting pelanggan puas,” imbuhnya.

Sumber: wanitawirausaha.femina.co.id

Read More

Pengusaha Muda Donat Ubi

Pengusaha Sukses Donat Ubi


Berbekal kreativitas dan ketekunan, Halim Wibowo Santoso sukses menjadi pengusaha kue di bawah bendera HW Bakery. Pria asal Situbondo, Jawa Timur ini memproduksi aneka roti, kue dan donat dengan bahan baku utama ubi jalar.

Bisnis yang digelutinya sekarang sudah menjadi cita-citanya sejak duduk di bangku SMA. Kala itu, ia kerap memimpikan memiliki sebuah toko roti.
Untuk mewujudkan impiannya itu, Halim lalu memilih hijrah dari kampung halamannya di Situbondo ke Surabaya untuk kuliah di Fakultas Teknologi Pangan, Universitas Widya Mandala. “Ternyata dari kuliah itu  sedikit sekali praktik pangannya,” ujarnya.

Ia menyelesaikan studinya tersebut pada 2007 lalu. Setelah lulus, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta sebagai tenaga pemasaran. Namun hanya berjalan dua bulan, ia sudah tidak nyaman dengan pekerjaannya itu.

Dari Jakarta, Halim lalu memutuskan kembali ke Surabaya. Di Kota Pahlawan ini, cita-citanya mem buka usaha roti dan donat makin berkobar.  Ia pun mulai belajar sendiri membuat donat. “Saya sempat beberapa kali nongkrong di gerai donat J.CO untuk melihat proses pembuatan donat dari dapur terbuka mereka,” ujarnya.

Dari situ, akhirnya ia memiliki gambaran besar bagaimana proses membuat donat. Kemudian tercetuslah resep donat dengan bahan baku ubi jalar setelah menonton serial kartun Kura-Kura Ninja. Di serial itu ada tokoh yang namanya Donatello. "Seperti nama tokoh kartun itu, saya pun terpikir bikin donat dari bahan dasar telo (ubi jalar)," ujarnya.

Dari awalnya sekedar coba-coba, ternyata bisnis Halim semakin menanjak. Saat ini, Halim memproduksi 50 varian kue, roti dan donat berbahan ubi jalar. Harganya relatif terjangkau mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per buah. "Semuanya berbahan baku ubi jalar," klaimnya.
Halim mengatakan, dengan menggunakan ubi jalar sebagai bahan baku utama, produk kuenya memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki kompetitor. Antara lain, teksturnya lebih lembut dan tahan lama. "Yang paling unik, warna roti, kue dan donatnya, bukan putih tapi kuning," ujarnya.

Sedangkan dari segi rasa, lebih gurih dibanding pada produk lain. Ia juga mengklaim, rasa manis yang dihasilkan lebih enak karena ada cita rasa alami dari ubi jalar.

Selain donat, dia juga mengklaim memproduksi roti sehat, yaitu campuran gandum dan ubi jalar. "Ini aman dikonsumsi bagi pengidap jantung atau kolesterol," tambah pria lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya, Fakultas Teknologi Pangan ini.

Untuk kebutuhan produksinya tersebut, Halim mendapat pasokan bahan baku dari daerah Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Sebulan ia bisa memesan 500 kilogram (kg) ubi jalar. Bahan baku sebanyak itu dapat menghasilkan sekitar 1.500 hingga 2.000 roti, donat dan kue.

Seluruh kue hasil produksinya dipasarkan di gerai kue yang miliknya. Saat ini Halim memiliki dua gerai HW Bakery yang berlokasi di Situbondo dan Pasuruan, Jawa Timur.

Menurutnya, pelanggan kuenya masih dari sekitar dua kota tersebut. Saat ini ia memang masih menyasar pelanggan yang berasal dari kalangan menengah ke bawah. Meski demikian, ia sudah bisa meraup omzet hingga sekitar Rp 100 juta per bulan. Terlebih saat hari raya dan hari besar keagamaan tiba, omzetnya bisa meroket mencapai Rp 150 juta per bulan.

Atas kerja keras dan kreativitasnya ini, Halim pun terpilih sebagai finalis nasional Wirausaha Muda Mandiri dari Bank Mandiri kategori boga pada 2010. Sebagai finalis, Halim meraih pinjaman kredit Rp 15 juta. "Program tersebut memang ditujukan bagi usaha yang belum memiliki badan usaha, belum bankable," ujarnya.

Namun sekarang kondisinya sudah berbeda. Sejak Mei 2013 lalu, Halim telah membentuk badan usaha bernama UD Halim Makmur Sentosa. Dengan mendirikan badan usahanya, bisnisnya pun kini lebih maju. "Sekarang bisnis saya sudah memenuhi aspek legalitas dan punya identitas," ujarnya.

Kendati demikian, ia mengaku perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi berbagai rintangan saat merintis usaha tersebut.

Tiga prinsip kuliner

Bagi Halim, menekuni bisnis makanan sudah menjadi impiannya sejak remaja. Makanya, kendati banyak menemui kendala dan tantangan, ia tidak menyerah.

Kini, seluruh kerja kerasnya itu sudah mulai membuahkan hasil. Terbukti, omzet usahanya itu kini tembus Rp 100 juta per bulan. "Kalau saya berhenti di tengah jalan, tentu lain ceritanya," kata Halim.

Halim sendiri mengaku memiliki tiga prinsip dalam berbisnis kuliner. Pertama, seorang pebisnis kuliner harus menyuguhkan makanan yang punya cita rasa enak sehingga diterima masyarakat. Prinsip ini ia aplikasikan dengan mencoba beberapa kali resep adonan donat buatannya.

Kedua, bisnis kuliner harus menjaga citra yang positif di mata konsumen, terutama dari segi pelayanan dan kebersihan. "Terutama soal sanitasi. Bisnis kuliner sangat erat kaitannya dengan hal itu," ujar pria 29 tahun ini.

Ketiga, jangan menutup diri dari kritik dan saran konsumen. Halim bilang, cita rasa yang enak dan pelayanan yang baik saja tidak pernah cukup. Pasalnya, beberapa konsumen punya ciri cepat bosan dengan suatu produk makanan.

Maka itu, penting untuk selalu mendengar masukan dari pelanggan. Dari masukan mereka itu kelangsungan usaha bisa terjaga.

Halim mengakui, terjun ke dunia usaha tidak mudah. Akan banyak tantangan dan kendala yang ditemui. Karena itu pula banyak pebisnis kerap menemui kegagalan di tengah jalan.

Namun, bila ingin sukses, seorang pebisnis jangan mudah menyerah. Menurut Halim, jadikan kegagalan sebagai materi kuliah dalam berbisnis. "Apalagi waktu kuliah, kita menerima banyak teori tapi sedikit praktik," tambah Halim.

Sebagai materi kuliah, kegagalan berbisnis juga harus dilihat secara kritis.  Kegagalan itu, kata Halim, harus dianalisis penyebabnya dan dicarikan solusinya. "Mengapa itu bisa terjadi? Itu harus dicari jawabannya," ujar Halim.

Setelah bisa mendeteksi masalah, maka segera carikan solusinya. "Setelah itu sebisa mungkin kita hindari supaya tidak terjadi lagi," cetusnya.

Manajemen internal dalam bisnis juga sangat penting. Menurut Halim, saat memutuskan membuka gerai ke dua di Pasuruan, gerai pertamanya di Situbondo sudah stabil sehingga fokus perhatiannya bisa dibagi.

Dalam hal produksi pun ia sudah mulai menyerahkan kepada karyawannya. Namun, menurut Halim, soal cita rasa ini penting sekali di bisnis kuliner. Makanya, ia tak bisa diserahkan ke sembarang orang.  Itu juga yang membuat dia belum berani membuka tawaran kemitraan.  (Noor Muhammad Falih)

Sumber: Kompas

Read More

Kisah Sukses Pengusaha Sandal Sabertooht

Kelihaian Yayat Hidayat berinovasi membuatnya sukses menghidupkan bisnis sandal gunung yang hampir mati. Kini, dengan membuat sandal outdoor aneka warna dengan merek Sabertooth, ia berhasil meraup sukses di bisnis sandal gunung.

Kesuksesan usaha seseorang terkadang tidak datang dari sesuatu yang ia sukai. Tapi, dengan kemauan belajar yang besar, orang bisa saja menjadi berhasil.Yayat Hidayat telah membuktikannya. Meski awalnya tak menggemari dunia kerajinan sandal, kini, ia justru sukses menjadi pengusaha sandal dengan merek Sabertooth.

Oke, mungkin, sebagian orang masih asing dengan merek Sabertooth. Tapi, jika menyebut nama Sandal Dody, barangkali, Anda yang cukup lama tinggal di Bandung bakal mengenalnya. Sebab, merek sandal ini sudah ada sejak 1980 dan sempat menjadi produk wajib para pecinta alam. Nah, Sabertooth merupakan nama baru Sandal Dody sejak tahun 2010.

Yayat bukanlah pemilik dan pencipta merek Sandal Dody yang kini bernama Sabertooth. Pemilik merek ini adalah Doddy Kasoem, pengusaha di Bandung yang juga memiliki bisnis peralatan outdoor dengan merek Jayagiri. Yayat merupakan orang di balik dua merek itu. “Saya adalah perajin yang memasok sandal,” ujar pria 34 tahun ini.

Kisah Yayat membuat sandal berawal selepas ia kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Pasundan, Bandung. Kebetulan, Yayat dan Doddy sama-sama aktif di sebuah masjid. Pada tahun 2002, jalinan kerjasama semakin kuat saat Doddy memintanya jadi pemasok sandal.

Meski tawaran itu menarik, usaha untuk mewujudkannya tidak semudah yang dibayangkan. Sebab, Yayat tidak tahu-menahu soal bisnis sandal, apalagi membuatnya. Saat itu, minat utamanya adalah dunia otomotif. Beruntung, sang ayah yang merupakan salah satu perajin sepatu di daearah Parakan Saat, Bandung, mau mengajarinya membuat sandal.

Pertama kali Yayat memasok Sandal Dody pada tahun 2004 atau baru dua tahun kemudian sejak dia diminta Doddy membuat sandal. “Saya belajar dulu, dan berulang kali desain saya ditolak,” tuturnya.
Setelah berhasil memenuhi pesanan pertama, selanjutnya, Yayat rutin memasok 500 pasang sandal tiap bulan. Harga sepasang sandal saat itu sekitar Rp 30.000. Saat itu, outlet Sandal Dody di Bandung tersisa tiga. Sebelumnya, Sandal Dody memiliki belasan outlet yang tersebar sampai ke Sumatra.

Suatu kali pada tahun 2008, Doddy menyatakan ingin fokus menggarap produk outdoor dengan merek Jayagiri. Lantaran jalinan kerjasama dengan Yayat sudah cukup dekat dan seperti keluarga, Doddy lantas menyerahkan merek Sandal Dody kepada Yayat.

Inovasi produk Hingga tahun 2009, Yayat bertahan dengan membuat sandal bermerek Sandal Dody. Namun, lama kelamaan, ia merasakan bahwa usahanya tidak tambah maju. Akhirnya, setelah membaca minat pasar, sejak awal 2010, Yayat membuat sandal outdoor dengan aneka warna. “Bisa dibilang, ini adalah sandal outdoor pertama yang berani menggunakan aneka warna,” ujar bapak tiga anak ini. Tak hanya membenahi desain, ia juga merombak merek dagangnya menjadi Sabertooth.

Menyadari luasnya pasar di dunia maya, Yayat lantas menawarkan sandal buatannya lewat sejumlah situs jejaring sosial dan membuat website. Modal awalnya kala itu sebesar Rp 10 juta yang ia ambil dari tabungan. Pada Februari 2010, ia mendapat suntikan modal dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII sebesar Rp 20 juta. Tak disangka, inovasi produk berupa sandal outdoor aneka warna itu mendapat sambutan hangat di pasar. Sejak diluncurkan pada April 2010, setiap bulan, Yayat bisa memproduksi 2.500–4.000 pasang sandal. Di luar merek sendiri, ia mengaku tiap bulan juga memasok sandal ke dua merek lain. Jumlahnya mencapai 300 pasang.

Dari produksi sebanyak itu, 70 persen di antaranya adalah sandal outdoor dengan aneka warna. Sisanya adalah sandal outdoor warna hitam seperti yang kebanyakan beredar di pasar. Dengan harga sandal Rp 70.000– Rp 85.000 per pasang, tiap bulan, Yayat bisa menangguk omzet ratusan juta rupiah.
Model pemasaran dengan menggunakan jalur dunia maya ternyata juga mampu menjerat pembeli asal Malaysia. Melalui pedagang perantara, Yayat mendapat pesanan membuat 6.500 pasang sandal. Paling lambat, awal tahun depan, pesanan sudah harus dikirim ke negeri jiran tersebut.

Menghadapi permintaan yang semakin banyak, Yayat mulai memperluas kapasitas produksi. Ia tidak kesulitan melakukannya lantaran kembali mendapatkan dana bantuan dari PTPN VIII sebesar Rp 150 juta pada Agustus 2010. Respons positif dari pasar mancanegara itu kian mengibarkan rasa optimistis Yayat. Tahun depan, dia bersiap melebarkan sayap dengan menambah rekanan bisnis lewat sistem konsinyasi. Ia berniat melebarkan sayap bisnis ke Singapura dan Brunei Darussalam. Tak tanggung-tanggung, tahun depan, ia menargetkan bisa memasarkan sandal Sabertooth ke 100 toko.


Sumer: kompas

Read More

Kisah Sukses Pengusaha Boneka

Pengusaha boneka dari Magelang, Jawa Tengah ini pemenang Citi Micro-entrepreneurship Award (CMA) tahun 2007. Diberhentikan dari tempat bekerja mendorongnya untuk memulai usaha.

Ditemui disela-sela peluncuran gelaran CMA 2013 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (28/8/2013) lalu, Bu Tin, demikian ia kerap disapa, berbagi cerita bagaimana awalnya ia memulai usaha boneka dan memberi kontribusi terhadap lingkungan sekitarnya.

Bu Tin hanya lulus SD, dan bekerja serabutan. Pada tahun 1998, ia diberhentikan dari perusahaan. Sewaktu keluar dari pabrik, Bu Tin menganggur dua bulan. Karena pengeluaran tetap ada, mau tidak mau ia harus mendapatkan penghasilan.

Dengan modal yang dulu dikumpulkan dari pendapatannya, sebesar Rp 2,5 juta, dia memulai membuat boneka. Usaha kecil-kecilan ini menjadi harapan dan tumpuannya untuk menopang hidup.

"Saya punya tanggungan anak yang mesti dikasih makan. Saya tidak mau dia seperti saya, dan mesti menjalani pendidikan tinggi. Karena itu saya memulai usaha sendiri," ujar ibu dua anak ini meyakinkan.

Saat memulai usaha, dirinya sempat terpikir apakah usahanya akan laku atau tidak. Meskipun demikian dia tetap menjalani. Kendalanya waktu itu modal dan memasarkannya. Bu Tin masuk keluar toko tanpa rasa malu. Motivasi utamanya adalah bagaimana bisa meneruskan pendidikan anak ke jenjang yang lebih tinggi.

Sampai setahun lamanya, toko-toko yang ada di objek wisata yang ia kerap kunjungi tahu usaha boneka yang dia buat. "Awalnya selalu ditolak, namun saya bersikeras ketemu dengan pemilik toko," ujar Bu Tin bercerita.

Usaha keras itu menjadi pelajaran dan sekaligus membuahkan hasil. Usahanya kemudian mendapat tempat dan diminati. Dalam prosesnya, Bu Tin yang tahun ini berusia 40 tahun, melatih ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya membuat boneka. Ada sekitar delapan ibu yang ia rekrut untuk membuat pola, menjahit, serta membuatnya jadi boneka. Patokannya jangan sampai jelek dan mengecewakan.

Dalam sehari, seorang ibu bisa membuat 100 boneka kecil atau 30 boneka berukuran besar. Bu Tin kemudian lebih fokus pada pemasaran terhadap boneka yang sudah dibuat ini.

Usaha boneka yang ia lakoni ini sekarang telah memberikan hasil. Karena keseriusannya, saat ini per bulan Suratinah mendapat pemasukan antara Rp 30 juta sampai Rp 50 juta.

Penulis :Rahman Indra
Editor :Felicitas Harmandini

Sumber: Kompas
Read More
Powered by Blogger.

© 2011 Kisah Wirausaha, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena